BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Menguat Tipis terhadap Dolar AS Hari Ini 17 September 2025

Pengamat mengatakan, pelaku pasar akan mencermati keputusan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed). Keputusan the Fed akan bayangi gerak rupiah terhadap dolar AS.

Diterbitkan 17 September 2025, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah naik terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, (17/9/2025). Rupiah menguat tiga poin atau 0,02% menjadi 16.437 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 16.440 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menuturkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini seiring keputusan Bank Indonesia (BI). BI memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%. Demikian mengutip dari Antara.

Selain itu, BI juga memangkas suku bunga Deposit Facility sebesar 50 basis poin menjadi 3,75% serta Lending Facility sebesar 26 bps menjadi 5,5%.

"Alasan BI menurunkan suku bunga acuan dan suku bunga kredit untuk membantu pemerintah dalam mengucurkan dana Rp 200 triliun yang tersimpan di BI ke bank Himbara untuk di salurkan ke perusahaan-perusahaan yang mempunyai projek berupa kredit," kata Ibrahim, di Jakarta, Rabu.

Seiring suku bunga acuan yang dipangkas pada Rabu pekan ini, sejak awal 2025 BI telah memangkas suku bunga acuan empat kali, dari 6,00% pada Desember 2024 menjadi 4,75%.

 

 

Sisi Eksternal

Ibrahim menilai langkah tersebut menjadi sinyal kuat BI lebih mengutamakan stimulus pertumbuhan ekonomi meskipun rupiah menghadapi tekanan dari faktor politik domestik dan ketidakpastian global.

Sementara dari sisi eksternal, pergerakan rupiah dipengaruhi meningkatnya keyakinan bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, 17 September 2025 waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Pasar prediksi penurunan setidaknya 25 basis poin, dengan sebagian pelaku pasar membuka kemungkinan pemangkasan lebih agresif hingga 50 basis poin.

Ia menambahkan, selain penurunan suku bunga, investor juga akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru The Fed dan dot plot.

 

Pasar Cermati the Fed

Setelah itu pasar akan mencermati konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell untuk mendapatkan petunjuk tentang seberapa jauh dan seberapa cepat siklus pelonggaran dapat berlanjut.

“Namun, pasar masih belum yakin tentang sinyal yang akan diberikan The Fed terkait pelonggaran moneter di masa mendatang, terutama mengingat data ekonomi terbaru juga menunjukkan inflasi AS tetap stagnan," kata dia.

Di sisi geopolitik, tensi perang Rusia-Ukraina kembali memanas. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global.

Kondisi ini diperburuk dengan sikap Presiden AS Donald Trump yang mendorong tarif lebih tinggi bagi negara-negara importir utama minyak Rusia, termasuk China dan India.

Ibrahim prediksi rupiah akan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup menguat di kisaran 16.390-16.440 per dolar AS.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6