Taksi Air Bakal Hadir di Bali

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sedang merencanakan pengembangan lokasi taksi air di Bali.

Diterbitkan 05 Agustus 2025, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menjalin kesepakatan lintas instansi dan juga dengan pemerintah daerah, untuk program pengadaan taksi laut (water taxi) di Bali. Kemenhub siap untuk melakukan proses percepatan terkait pengadaan moda transportasi alternatif tersebut. 

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Lollan Andy Sutomo Panjaitan mengatakan, saat ini tengah diadakan rencana untuk pengembangan lokasi taksi air. Antara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan wisata seperti Seminyak, Kuta, hingga Canggu. 

"Kalau terindikasi sebenarnya kalau lewat darat ini sekitar 1-2 jam, kalau dari indikasi awal lewat laut ini diupayakan mudah-mudahan bisa 20 menit," kata Lollan dalam sesi bincang bersama media di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Kemenhub disebutnya bakal menjadikan program water taxi sebagai usulan untuk menjadi proyek yang lebih strategis. Dengan telah menunjuk PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebagai operator, didukung oleh Universitas Udayana, Bali dari sisi lembaga penelitian. 

Terkait progres, saat ini Kemenhub memandang untuk dilakukan percepatan proses birokrasi. Lantaran kolaborasi antar kementerian/lembaga untuk pengadaan program taksi air sudah terbentuk. 

"Sinkronisasi program pusat dan daerah sudah terbentuk. Dan juga untuk hal-hal lainnya pembangunan perizinan. Terutama perizinan-perizinan yang terkait dengan Kementerian Perhubungan tentunya kita siap memberikan hubungan untuk percepatan," ungkapnya.

 

Percepat Kajian Studi Komprehensif

Namun, yang terpenting, Lollan menekankan, adalah bagaimana menghasilkan kajian studi yang komprehensif dalam waktu dekat. Lantaran program taksi air ini perlu kajian mendalam terkait hal-hal teknis, ekonomis, hingga menyangkut aspek sosial-budaya. 

"Terutama dalam hal teknis, misalkan bagaimana sebenarnya kontur laut dan posisi-posisi faktor-faktor alam lainnya yang perlu dipertimbangkan. Dan, efek-efek dari rencana pembangunan dimaksud," sebutnya. 

"Kebetulan saat ini sedang disurvei, mudah-mudahan ada lokasi-lokasi yang tepat untuk bisa dilaksanakan pembangunan dengan efek lingkungan yang bisa diperhitungkan, atau mungkin dampaknya bisa diatasi," dia menambahkan. 

 

Kaji Lebih Dalam Sisi Ekonomis

Berikutnya, Lollan meneruskan, sebenarnya perlu dikaji lebih dalam dari sisi ekonomis. Apakah biaya pembangunan dan operasional dari water taxi mumpuni secara ekonomis, sehingga bisa diimplementasikan dengan optimal. 

Tak kalah pentingnya yakni terkait aspek sosial-budaya. Lantaran Bali jadi tempat yang masih menjunjung tinggi kearifan lokal. "Apakah wilayah tersebut juga ada keterkaitannya dengan kebijakan daerah, tentang terkait dengan situs-situs yang religi, dan juga tata-tata aturan lainnya yang perlu kita penuhi," bebernya. 

Alhasil, program awal pengadaan taksi air ini bisa mencapai rangkuman dari kajian-kajian yang memang diperlukan. "Sehingga pada saat diperlukan perizinan juga bisa kita melakukan percepatan," pungkas Lollan. 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6