Harga Minyak Melemah Terbatas, Negoisasi Tarif Masih Jadi Fokus Investor

Analis menilai koreksi harga minyak dalam tiga hari ini telah mereda. Namun, sentimen tarif dagang masih mempengaruhi harga minyak.

Diperbarui 24 Juli 2025, 19:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu, 23 Juli 2025. Harga minyak susut karena investor menilai perkembangan perdagangan termasuk kesepakatan tarif Amerika Serikat (AS) dengan Jepang menjelang pengumuman data persediaan AS.

Mengutip CNBC, Kamis (24/7/2025), harga minyak Brent turun 8 sen menjadi USD 68,51 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6 sen menjadi USD 65,25 per barel.

Kedua harga acuan minyak turun sekitar 1% pada sesi sebelumnya setelah Uni Eropa mengatakan sedang mempertimbangkan tindakan balasan terhadap tarif AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa kalau AS dan Jepang telah mencapai kesepakatan perdagangan yang mencakup tarif 15% atas impor AS dari Jepang.

"Penurunan (harga) dalam tiga sesi terakhir tampaknya telah mereda, tetapi saya tidak memperkirakan banyak dorongan kenaikan dari berita kesepakatan perdagangan AS-Jepang karena hambatan dan penundaan yang dilaporkan dalam perundingan dengan Uni Eropa dan Tiongkok akan tetap membebani sentimen," kata Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari seperti dikutip dari CNBC.

Komisi Eropa berencana untuk mengajukan tarif balasan atas 93 miliar euro atau USD 109 miliar barang-barang AS untuk disetujui oleh anggota Uni Eropa, sementara fokus utama Komisi adalah mencapai hasil negosiasi dengan Amerika Serikat untuk menghindari tarif AS sebesar 30%.

Selain itu, investor sedang menunggu data inventaris minyak AS dari Badan Informasi Energi (EIA) pada Rabu nanti. Dalam sinyal bullish lainnya untuk pasar minyak mentah, Menteri Energi AS mengatakan pada Selasa kalau AS akan mempertimbangkan sanksi terhadap minyak Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Uni Eropa pada Jumat menyetujui paket sanksi ke-18 terhadap Rusia, yang menurunkan batas harga minyak mentah Rusia.Di sisi pasokan fisik, pemuatan minyak mentah Azeri BTC dari pelabuhan Ceyhan di Turki dilanjutkan pada Rabu, setelah peningkatan pemeriksaan terkait masalah kontaminasi yang menunda pemuatan dalam beberapa hari terakhir, beberapa sumber industri mengatakan kepada Reuters.

 

Harga Minyak Dunia Merosot, Ada Apa?

Sebelumnya, harga minyak turun untuk sesi ketiga berturut-turut pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta). Harga minyak dunia turun di tengah kekhawatiran perang dagang antara konsumen minyak mentah utama Amerika Serikat dan Uni Eropa akan mengekang pertumbuhan permintaan bahan bakar dengan mengurangi aktivitas ekonomi.

Harga minyak Brent turun 62 sen, atau 0,9%, menjadi USD 68,59 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 99 sen atau 1,47% dan ditutup pada USD 66,21 per barel.

Kontrak WTI Agustus berakhir pada hari Selasa dan kontrak September yang lebih aktif turun 47 sen, atau 0,7%, menjadi USD 65,48 per barel.

“Harga minyak turun untuk sesi ketiga berturut-turut ... karena meningkatnya urgensi dalam negosiasi perdagangan antara AS dan mitra-mitranya,” ujar Analis Bank MUFG Soojin Kim.

Pemerintahan Donald Trump telah menetapkan batas waktu 1 Agustus bagi negara-negara untuk mengamankan kesepakatan perdagangan atau menghadapi tarif yang tinggi.

Uni Eropa sedang menjajaki serangkaian tindakan balasan yang lebih luas terhadap Amerika Serikat karena prospek perjanjian perdagangan yang dapat diterima dengan Washington memudar, menurut diplomat Uni Eropa.

 

Tarif AS

AS mengancam akan mengenakan tarif sebesar 30% pada impor Uni Eropa jika kesepakatan tidak tercapai.

Dolar yang lebih lemah telah membatasi beberapa kerugian minyak mentah karena pembeli yang menggunakan mata uang lain membayar relatif lebih sedikit.

Harga minyak telah merosot “karena kekhawatiran perang dagang mengimbangi dukungan oleh (dolar AS) yang lebih lemah,” tulis Analis Pasar IG Tony Sycamore.

Margin keuntungan dari penyulingan minyak lebih kuat karena persediaan yang rendah juga mendukung harga minyak mentah.

“Pergerakan turun ini mungkin akan lebih pesat jika saja kinerja distilat tidak terus membaik, yang terus ditopang oleh rendahnya stok,” ujar Analis PVM Oil, John Evans.

Sementara itu, jajak pendapat analis Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS kemungkinan turun sekitar 600.000 barel dalam seminggu hingga 18 Juli. 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6