Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS Hari Ini 22 Juli 2025

Nilai tukar rupiah berpeluang lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (22/7/2025). Rupiah akan bergerak di kisaran 16.310-16.360 per dolar AS.

Diterbitkan 22 Juli 2025, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang & komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat pada perdagangan Selasa sore ini, rupiah ditutup menguat tipis 3 poin sebelumnya sempat menguat 30 poin di level 16.319 dari penutupan sebelumnya di level 16.325.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.310 - Rp.16.360," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/7/2025).

Ibrahim menilai, fokus pasar hari ini adalah pidato pembukaan dari Ketua The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) Jerome Powell pada sebuah acara yang diadakan oleh Federal Reserve dan data aktivitas manufaktur Richmond.

Kekhawatiran terhadap independensi The Fed yang semakin meningkat setelah Anggota DPR Anna Paulina Luna (R-Fla.) secara resmi melaporkan Ketua Jerome Powell ke Departemen Kehakiman (DOJ) atas tuduhan pidana, menuduhnya berbohong di bawah sumpah dalam dua kesaksian di hadapan Kongres terkait renovasi kantor pusat The Fed senilai USD2,5 miliar.

"Meskipun konsekuensi hukumnya masih belum pasti, tekanan politik memicu kekhawatiran investor dan menambah ketidakpastian baru pada sentimen pasar yang sudah rapuh," ujar dia.

Sementara itu pasar terus bergulat dengan sinyal beragam dari beberapa pejabat The Fed mengenai potensi penurunan suku bunga pada Juli.

Probabilitasnya menunjukkan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunganya saat ini, dengan peluang sebesar 97% untuk mempertahankan suku bunga dan 3% untuk penurunan suku bunga 25 basis poin pada pertemuannya pada 30 Juli.

Ramalan Perekonomian Global 2026

Di sisi lain, kondisi perekonomian global 2026 masih sulit ditebak, melihat gambaran pertumbuhan ekonomi 2026 yang sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan internal.

Oleh karena itu, Bank Indonesia cenderung lebih hati-hati membuat perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,70%-5,50%. Perlambatan ekonomi dunia, khususnya di negara mitra dagang utama seperti AS dan China, berdampak pada kinerja ekspor nasional.

"Pemerintah juga perlu mempertimbangkan mengambil langkah kebijakan yang bersifat countercyclical untuk meredam dampak fluktuasi ekonomi. Mendorong belanja pemerintah lebih produktif dan memberikan stimulus yang tepat sasaran baik bagi kalangan miskin, rentan terutama untuk kelas menengah," ujarnya.

 

Pemberian Stimulus Fiskal

Ibrahim menyoroti terkait langkah kebijakan memberikan stimulus fiskal untuk sektor transportasi, bantuan sosial, subsidi upah, insentif jalan tol, dan tambahan bantuan pangan beras. Instentif sektor transportasi dan tarif tol menyasar kelompok kelas menengah sehingga mobilitasnya lebih tinggi pada masa libur sekolah. 

Sedangkan bantuan sosial, subsidi upah, dan bantuan pangan lebih terfokus pada kelompok rentan dan miskin sehingga bisa bertahan di tengah pelemahan ekonomi nasional. Begitu pula dari sisi moneter, kebijakan yang bersifat ekspansif melalui relaksasi suku bunga acuan, BI rate.

Kebijakan ini dilakukan untuk menurunkan suku bunga kredit yang pada gilirannya diharapkan meningkatkan permintaan kredit, baik untuk investasi maupun konsumsi.  Kebijakan moneter ekspansif BI sejalan dengan kecenderungan inflasi yang cukup rendah. Pemerintah dan BI harus menyadari, untuk saat ini countercyclical policy fiskal dan moneter belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

   

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6