Cerita Penghuni Rumah Flat Menteng: Bentuk Koperasi hingga Bangun Hunian Murah di Tengah Kota

Pembangunan Rumah Flat Menteng dicetuskan oleh aktivis, arsitek, dan pakar tata kota, Marco Kusumawijaya.

Diterbitkan 10 Juli 2025, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Rumah Flat Menteng disebut-sebut lebih murah ketimbang hunian lainnya yang ada di tengah pusat kota Jakarta. Pembangunan Rumah Flat Menteng dan pembagian bebannya ternyata dilakukan dengan skema koperasi.

Anggota Koperasi Serba Usaha Rumah Flat Menteng, Andi Pratama Hardiansyah menjelaskan, seluruh penghuni merupakan bagian dari koperasi. Koperasi ini terbentuk dalam jaringan orang yang telah lama saling kenal.

Dia bilang, pembangunan Rumah Flat Menteng dicetuskan oleh aktivis, arsitek, dan pakar tata kota, Marco Kusumawijaya.

"Jadi pertama dari ide, dari sebuah ide dari Pak Marco, terus Pak Marco mulai mengumpulkan kawan-kawan terdekatnya dan siapa yang dia kenal, untuk mewujudkan ide ini. Terus kami berkumpul, akhirnya saat berkumpul kami membuat koperasi," kata Andi saat berbincang dengan Liputan6.com, di Rumah Flat Menteng, Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Libatkan Anggota Koperasi

Dia menjelaskan, anggota koperasi ini terlibat sejak perencanaan desain. Kemudian, turut pula membahas dalam proses pembangunannya. Berbeda dengan konsep lain yang calon penghuni membeli bangunan yanh sudah jadi.

"Jadi desain pun calon perguni ini juga ikut andil untuk menentukan kayak gitu. Jadi bukan desain Mateng dulu jadi baru mengumpulkan orang, tapi orangnya dulu yang dikumpulkan," tuturnya.

 

Lebih Murah dari Sewa

Andi menceritakan biaya total pembangunan dibagi secara proporsional kepada seluruh penghuninya sesuai dengan besaran unit yang akan ditempati.

Dia pun mengakui, biaya yang dikeluarkannya untuk hunian seluas 40 meter persegi (m2) lebih murah ketimbang sewa rumah atau apartemen.

Dia pernah melakukan survei sendiri untuk rumah atau indekos yang ada di sekitar kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Jauh, jauh (harganya) gak usah jauh-jauh lah, di sebelah aja ada kos-kosan. Kemarin kami survei harganya sekitar paling murah Rp 2,5 juta (per bulan) itu, yang kecil banget gitu. Rata-rata untuk yang ruangannya bisa dibilang layak lah ya, itu Rp 4-7 juta di area satu komplek ini aja," terangnya.

 

Rumah Flat Menteng

Sebagai informasi, Rumah Flat Menteng ini dibangun 4 lantai dengan ukuran unit yang beragam. Mulai dari 40 m2, 60 m2, hingga 80 m2. Bangunan ini berdiri di atas lahan sekitar 800 m2.

Harga yang harus dibayarkan pun berkisar dari Rp 300 juta hingga Rp 1 miliar, tergantung pada luasan unitnya. Angka ini memang lebih murah ketimbang harga rumah tapak di kawasan Menteng yang bisa tembus di atas Rp 4 miliar hingga puluhan miliar rupiah.

Andi bilang, anggota koperasi yang juga penghuni turut menghitung biaya perawatan dan fasilitas dalam Rumah Flat Menteng. Seluruh unit hanya diperbolehkan memiliki satu kamar mandi. Jika lebih, maka akan berpengaruh pada biaya pembangunan yang juga akan ditanggung bersama.

"Enggak seperti rumah tapak yang kamar mandinya bisa diatur sendiri-sendiri, kami kan tetap harus pakai saluran air yang publik ya, kayak gitu kan. Nah, akhirnya disitu juga akan membebani tambahan ke warga lain kan sebenarnya. Nah, hal-hal seperti itu kami pikirkan gitu. Akhirnya itu juga bisa menurunkan harga ya. Jadi secara konsep, desain, dan arsitekturnya, kami pikirkan benar-benar kayak gitu," bebernya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6