Ilham Habibie: Pemangkasan Tenaga Kerja di Indonesia Tak Sepenuhnya Akibat Konflik Global

Konflik seperti invasi Rusia ke Ukraina yang berlangsung sejak dua tahun lalu, memang membawa dampak tertentu terhadap Indonesia. Ini penjelasan Ilham Habibie.

Diterbitkan 27 Juni 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yang juga merupakan anak dari Presiden ketiga RI, B.J. Habibie, Ilham Akbar Habibie, menilai melemahnya industri dan pengurangan lapangan kerja di Indonesia tidak bisa semata-mata disebabkan oleh konflik global seperti perang antara Rusia dan Ukraina maupun ketegangan di Timur Tengah.

Menurutnya, penyebab melemahnya industri nasional yang berimbas pada penyusutan tenaga kerja jauh lebih kompleks dan tidak terlalu berkaitan langsung dengan perang-perang tersebut.

“Jadi alasan yang membuat industri kita lebih lemah yang membuat mengurangi lapangan pekerjaan itu tidak terlalu banyak terkait dengan perang-perang itu, menurut saya ya,” ujar Ilham dalam wawancara khusus bersama Liputan6.com, Jumat (26/6/2025).

Ia menjelaskan konflik seperti invasi Rusia ke Ukraina yang berlangsung sejak dua tahun lalu, memang membawa dampak tertentu terhadap Indonesia, tetapi dampaknya tidak terjadi secara menyeluruh. Salah satu dampak yang dirasakan adalah terganggunya pasokan gandum, karena kedua negara tersebut merupakan produsen gandum besar dunia.

 

Industri Makanan dan Minuman

Namun, Indonesia disebut telah melakukan penyesuaian dengan beralih ke negara lain yang lebih stabil secara geopolitik sebagai sumber pasokan bahan pangan utama tersebut.

“Dulu, beberapa tahun yang lalu, import kita gandum itu terutama dari UK dan Rusia. Tapi sudah berganti. Sekarang ini Australia,” kata Ilham, menegaskan Indonesia saat ini lebih bergantung pada Australia yang tidak terdampak konflik serupa.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa sektor-sektor tertentu seperti industri makanan dan minuman memang bisa terdampak akibat naiknya harga gandum dan bahan pokok lainnya. Misalnya, industri mie instan, roti, dan makanan olahan lainnya. Tapi secara umum, menurutnya, pengaruh konflik terhadap keseluruhan industri tidak sebesar yang dibayangkan.

“Jadi kalau itu ada dampak kepada industri kita, itu kepada industri makanan, yang memang membutuhkan gandum. Misalnya industri untuk buat mie, atau juga roti, atau lain-lain,” tambah Ilham.

 

Harga Komoditas Global

Ia juga menyoroti harga komoditas global, terutama energi, yang biasanya turut naik akibat konflik. Tapi saat ini, menurutnya, tren harga energi seperti minyak dan gas justru cenderung turun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Jadi maksudnya harganya tidak terlalu tinggi, dia pernah naik drastis itu sudah turun lagi. Tapi harganya dibandingkan dengan misalnya 4-5 tahun yang lalu, jauh lebih rendah,” jelas Ilham.

Menurutnya, karena energi adalah komponen biaya penting dalam operasional industri, seharusnya tidak ada alasan kuat harga energi yang sekarang menjadi penyebab utama melemahnya industri atau berkurangnya lapangan kerja.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6