Shell Ancang-Ancang Akuisisi BP

Shell belum mengambil keputusan final soal ambilalih BP dan memilih menunggu hingga harga saham BP dan harga minyak dunia turun lebih jauh, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.

Diperbarui 04 Mei 2025, 19:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Perusahaan energi raksasa Shell tengah berkonsultasi dengan para penasihatnya untuk mengevaluasi kemungkinan mengakuisisi BP, perusahaan migas yang memiliki kantor pusat di Inggris. Namun, Shell belum mengambil keputusan final dan memilih menunggu hingga harga saham BP dan harga minyak dunia turun lebih jauh, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.

Diskusi intensif mengenai kelayakan dan manfaat akuisisi ini telah dilakukan dalam beberapa minggu terakhir, meskipun masih dalam tahap awal.

Dikutip dari Businesstimes, Minggu (4/5/2025), saham BP telah kehilangan hampir sepertiga nilainya dalam 12 bulan terakhir, akibat rencana restrukturisasi yang kurang meyakinkan investor dan harga minyak yang anjlok.

Shell juga disebut-sebut tengah mempersiapkan diri jika BP mengajukan pendekatan lebih dulu atau jika ada pesaing lain yang bergerak lebih cepat.

Alternatif lain yang dipertimbangkan Shell adalah program pembelian kembali saham atau akuisisi skala kecil dibandingkan langkah merger besar-besaran.

Merger Shell-BP Bisa Jadi Akuisisi Terbesar dalam Sejarah Industri Minyak

Jika terwujud, penggabungan antara Shell dan BP akan menjadi salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah industri minyak dunia.

Kedua perusahaan, yang dahulu merupakan rival utama dengan skala dan pengaruh global yang sebanding, kini menjalani jalur yang berbeda. Shell kini bernilai sekitar £149 miliar—lebih dari dua kali lipat kapitalisasi pasar BP yang hanya £56 miliar.

 

Transformasi Bisnis BP Gagal

Transformasi BP yang digagas oleh mantan CEO Bernard Looney dengan fokus pada strategi net-zero dinilai kurang berhasil.

CEO barunya, Murray Auchincloss, telah mengumumkan perubahan strategi yang kembali mengedepankan produksi minyak, mengurangi program pembelian kembali saham, dan menjual sejumlah aset.

Namun, harga minyak yang tertekan di bawah US$70 per barel serta tekanan dari investor aktif seperti Elliott Investment Management membuat masa depan BP semakin tidak pasti.

 

Shell Fokus Cari Nilai Tambah

CEO Shell, Wael Sawan, menegaskan bahwa perusahaannya tetap berhati-hati dalam melakukan akuisisi dan hanya akan bergerak jika ada peluang yang benar-benar menambah nilai dan meningkatkan arus kas bebas per saham dalam waktu singkat.

Ia menyebut bahwa prioritas saat ini adalah memperkuat posisi internal Shell terlebih dahulu. “Kami harus menata rumah kami sendiri sebelum melirik akuisisi besar,” ujarnya.

Sawan menambahkan bahwa Shell kini fokus melakukan akuisisi yang benar-benar bisa menciptakan nilai, seperti akuisisi perusahaan perdagangan LNG, Pavilion Energy. Shell juga telah memangkas unit energi terbarukan yang berkinerja buruk dan kembali fokus pada bisnis utama di sektor migas, sembari tetap menjaga kinerja saham yang relatif lebih kuat dibandingkan Chevron dan ExxonMobil dalam beberapa tahun terakhir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6