Ganjar Pranowo jika Jadi Presiden: Larang BUMN Punya Cucu Perusahaan

Calon Presiden Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo mengungkap rencananya agar proyek bisa merata antara perusahaan BUMN dan perusahaan swasta.

Diperbarui 11 Januari 2024, 17:12 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Calon Presiden Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo mengungkap rencananya agar proyek bisa merata antara perusahaan BUMN dan perusahaan swasta. Salah satunya, dia meminta agar BUMN sebatas memiliki anak usaha, tapi tidak dengan cucu-cicit usaha.

Ganjar Pranowo mengatakan, perusahaan pelat merah berperan sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam menggarap berbagai proyek. Utamanya, bagi proyek-proyek yang butuh insentif dari pemerintah.

"BUMN itu masuk ketika yang lain belum siap masuk. Maka sebenarnya pioneering, BUMN itu pionir, nanti kalau sudah, ini seperti stimulan saja, kalau sudah, kita lepas. Kan sebenarnya negara enggak mencari uang toh, (tugasnya) memfasilitasi negara itu," ujar Ganjar dalam Dialog Capres bersama Kadin Indonesia, di Jakarta, Kamis (11/1/2024).

Dia menegaskan, peran pemerintah melalui BUMN adalah untuk membangun tata kelola yang baik, hingga menstimulasi agar proyek yang digarap bisa menggerakkan ekonomi. Sebagai langkah lanjutan, dia pun melarang BUMN memiliki cucu atau cicit perusahaan agar porsi perusahaan swasta bisa masuk.

"Jadi kita memang to govern, mengelola, memanage, menstimulasi agar itu tumbuh. Maka kemudian kalau tadi ditanyakan, pak rasanya penting pak, BUMN kamu boleh punya anak perusahaan tapi tak boleh punya cucu, cicit, apalagi? eee ketawa lagi, eee korban-korban lagi sebelah kanan saya ini, betul ya?" urai Ganjar.

"Maka begitu bicara monopoli, saya coba memahami, memutar otak saya, ini kayaknya yang kayaknya BUMN punya cucu, punya anak, punya cucu, punya cicit, cagak, gantung siwur kalau kata orang di jawa itu, rame banyak, akhirnya swasta tidak punya peran," sambung Ganjar.

 

Porsi Proyek

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menegaskan bahwa porsi proyek di Indonesia perlu dibagi antara perusahaan pelat merah dengan perusahaan swasta. Misalnya, pada proyek di mana sudah menunjukkan keuntungan, bisa dialihkan ke swasta.

"Dibagi lah mana yang sudah bisa, kalau memang kemudian swasta sudah bisa muncul jangan-jangan memang BUMN-nya sudah tidak kita perlukan lagi," tuturnya.

Masih dalam konteks BUMN, Ganjar Pranowo mengaku telah mengantongi data perusahaan-perusahaan yang telah bekerja sama dengan BUMN, tapi belum mendapatkan bayaran.

"Hari ini saya kumpulin data pak, berapa kemudian suplier itu mitra-mitra yang tidak terbayar, malu dong, kalau kita punya perusahaan pelat merah enggak bayar, malu, gitulah kira-kira. Ini kok ngangguk semua ini, ini kayaknya korban-korban lagi ini," ucapnya.

 

Modernisasi Pertanian

Sebelumnya, Calon Presiden Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo mengungkap strategi meningkatkan produksi pertanian dalam negeri. Satu konsep yang menurutnya harus dilakukan adalah modernisasi pertanian.

Ganjar menjelaskan, penggunaan teknologi teranyar dalam praktik pertanian menjadi penting dilakukan. Sejalan dengan itu, pihaknya juga menjanjikan adanya insentif bagi petani-petani muda.

"Satu, sudah betul jawabannya sudah disinggung sedikit, modernisasi pertanian enggak ada pilihan lain," ujar Ganjar dalam Dialog Capres bersama Kadin Indonesia, di Jakarta, Kamis (11/1/2024).

Siapkan Insentif

Dia mengaku telah menjajaki pendapat ke para petani di lapangan, hasilnya banyak orang tua tak ingin anaknya menjadi petani. Sebagai salah satu upayanya, Ganjar berjanji akan menyiapkan beberapa insentif guna menarik minat anak muda menjadi petani.

"Tidak pernah ada insentif yang diberikan kepada anak muda untuk menjadi petani, modernisasi jadi pilihan dengan digitalisasi pertanian. Lahan sempit dilakukan pola konsolidasi, lahan kan pernah punya uji coba waktu itu di Sukoharjo," tuturnya.

Mantan Gubernur Jawa Tengah ini menyinggung beberapa insentif yang bisa jadi pilihan. Diantaranya dengan memberikan pelatihan sumber daya manusia (SDM). Selanjutnya, penyediaan sarana produksi (saprodi) pertanian.

"Maka sebenarnya kalau kemudian kalau korporatisasinya itu bisa dilakukan, mengajak anak muda, dilatih SDM-nya bagus, saprodinya disiapkan," ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6