Harga Emas Dunia Hari ini Turun Tipis, Data Tenaga Kerja AS Jadi Penekannya

Harga emas berjangka AS turun 0,15 persen menjadi USD 1.842,7 per ons. Sedangkan harga emas hari ini di pasar spot turun 0,02 persen ke level USD 1.836,39 per ons

Diterbitkan 03 Maret 2023, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melemah pada perdagangan Kamis karena data pekerjaan Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan pasar tenaga kerja yang ketat.

Dampaknya, data tenaga kerja yang ketat tersebut bisa membuat Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) terus menaikkan suku bunga yang menopang penguatan dolar AS.

Dikutip dari CNBC, Jumat (3/3/2023), harga emas hari ini di pasar spot turun 0,02 persen ke level USD 1.836,39 per ons pada pukul 15.23 ET, setelah naik di tiga sesi sebelumnya.

Sedangkan untuk harga emas berjangka AS turun 0,15 persen menjadi USD 1.842,7 per ons.

Data sebelumnya menunjukkan jumlah orang AS yang mengajukan klaim baru untuk pengangguran turun lagi minggu lalu.

Kepala analis Blue Line Futures Chicago Phillip Streible menjelaskan, dengan ketatnya pasar tenaga kerja membuat dolar AS yang lebih tinggi dan imbal hasil surat utang AS membebani emas.

Indeks dolar naik 0,48 persen, membuat emas lebih mahal bagi pemegang pembeli mata uang lainnya.

Benchmark imbal hasil Treasury 10-tahun AS melayang di dekat level tertinggi sejak awal November 2022, membebani emas karena tidak menghasilkan bunga.

Data Harga Konsumen

Data harga konsumen minggu depan dapat memberi investor lebih banyak petunjuk tentang jalur suku bunga the Fed menuju pertemuan pada 21-22 Maret, di mana diharapkan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

"Saya pikir pasar akan mengalami reli setelah itu," kata Streible.

 

Pendapat Terbagi

Pendapat Pejabat bank sentral AS terbagi dua. Apakah diperlukan suku bunga yang lebih ketat atau hanya mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk jangka waktu yang lebih lama guna menjinakkan inflasi yang jauh lebih tinggi dari target 2 persen.

Di tempat lain, data dari Spanyol, Prancis, dan Jerman di awal pekan menunjukkan bahwa inflasi tetap kaku, dengan Bank Sentral Eropa cenderung tetap hawkish.

Harga perak di pasar spot turun 0,41 persen menjadi USD 20,91 per ons, sedangkan harga platinum naik 0,74 persen menjadi USD 962,18 per ons. Sementara paladium naik 0,37 persen menjadi USD 1.445,43 per ons.

Harga Emas Dunia Diprediksi Tergelincir, The Fed dan Inflasi Jadi Biang Keladi

Sebelumnya, inflasi global yang semakin meningkat mengancam harga emas berada pada titik rendah, bahkan mampu menekan harga emas turun di bawah USD 1.800 per ons.

Dilansir dari laman Kitco News, Senin (27/2/2023), kejutan besar minggu lalu datang dari risalah pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) yang hawkish, yang mengungkapkan bahwa beberapa anggota FOMC condong ke arah kenaikan 50 basis poin daripada kenaikan 25 bps yang lebih dovish yang diadopsi pada pertemuan Februari.

Selain itu, data inflasi PCE yang dijadikan acuan The Fed tahunan dipercepat pada bulan Januari, mencapai 4,7 persen dibandingkan dengan yang diharapkan 4,3 persen.

"Ada reset besar dalam seberapa tinggi suku bunga akan pergi. Orang-orang sekarang berpikir lebih dari 6 persen. Itu cukup signifikan sehingga mematahkan punggung emas," kata analis pasar senior OANDA Edward Moya.

Menurut dia, jika ada momentum lebih lanjut menuju USD 1.800 per ons, itu bisa hal yang jelek untuk emas, dan harga bisa turun lagi USD 50.

Adapun tercatat emas berjangka Comex bulan April diperdagangkan pada USD 1.816,60 per ons, turun selama lima minggu berturut-turut.

"Ini adalah poin penting di sini. Jika kita mendapatkan penutupan mingguan di bawah USD 1.807- USD1.805, ini berisiko mengalami penurunan besar. Dan bisa dikisaran USD 1.750-an," kata ahli strategi teknis senior Forex.com Michael Boutros.

Menurut Boutros, hal ini adalah prospek makro yang membebani emas. Pada bulan Januari, logam mulia menguat karena gagasan bahwa Fed dapat memangkas suku bunga pada akhir tahun 2023.

Sekarang, kenyataannya mulai terlihat, jelas Boutros. "Dan angka inflasi yang kami dapatkan hari ini menunjukkan, dan penyesuaian terhadap suku bunga yang lebih tinggi memukul pasar," katanya. 

Sentimen Positif

Ketegangan geopolitik juga tidak mereda, yang menguntungkan emas dalam hal menemukan dasar dalam tren turun ini.

"Orang-orang melontarkan kata-kata besar seperti 'ancaman nuklir.' Ini adalah peringatan pertama perang di Ukraina, dan inilah saatnya untuk memeriksa kenyataan. Ancaman itu ada. Dan jika ancaman itu menjadi lebih menonjol dalam skala global dan jika pembicaraan ini terus memburuk, pada titik tertentu, itu akan terjadi. faktor dalam," kata Boutros.

Disisi lain pakar logam mulia Gainesville Coins, Everett Millman, mengatakan volatilitas di pasar emas masih jauh dari selesai, karena harga bisa turun secepat mereka pulih.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6