Sukses

Rupiah Menguat, Tapi Masih di Angka 15.232 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Kamis pagi. Penguatan nilai tukar rupiah ini seiring menurunnya data penjualan perumahan di Amerika Serikat (AS).

Pada Kamis (29/9/2022), rupiah menguat 35 poin atau 0,23 persen ke posisi 15.232 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.267 per dolar AS.

"Semalam dolar AS terlihat melemah terhadap major currency karena data perumahannya (pending home sales) bulan Agustus, mengalami penurunan 2 persen sehingga pasar berekspektasi ekonomi AS mulai melemah," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra dikutip dari Antara.

Laporan penjualan rumah tertunda atau pending home sales yang dirilis The National Association of Realtors (NAR) mengukur perubahan jumlah rumah yang telah memiliki kontrak jual namun masih menunggu finalisasi transaksi, tidak termasuk pembangunan baru.

Data yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat dianggap sebagai positif atau optimis untuk dolar AS, sedangkan data lebih rendah dari ekspektasi dapat dianggap sebagai negatif atau pesimis untuk dolar AS.

"Meskipun rupiah terlihat menguat pagi ini, tapi efek dari ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS masih berpotensi menekan rupiah lagi ke depannya," ujar Ariston.

Bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) yang memimpin perjuangan global melawan lonjakan inflasi, berubah menjadi lebih agresif baru-baru ini dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pesan itu diperkuat oleh Presiden The Fed Chicago Charles Evans, Presiden The Fed St Louis James Bullard dan Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, yang mengatakan bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga ke kisaran antara 4,5 persen dan 4,75 persen .

Sebelumnya The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) lagi pada pertemuan September ini dan merupakan ketiga kalinya secara berturut-turut.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran level 15.200 per dolar AS hingga 15.300 per dolar AS.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Rupiah Melemah ke 15.000 per Dolar AS, Berapa Level Ideal?

Nilai tukar rupiah melemah dan tembus level 15.008 per dolar AS pada Rabu (21/9/2022) pagi. Pelemahan rupiah ini dibayangi oleh sentimen kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (The Fed).

Pengamat dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai, nilai tukar rupiah berada di bawah level ideal atau seharusnya bisa lebih kuat dari 15.000 per dolar AS. Namun ia mengakui bahwa fluktuasi yang terjadi di rupiah banyak diakibatkan oleh sentimen psikologis.

Menurutnya, angka ideal nilai tukar rupiah berada di kisaran 14.500-14.750 per dolar AS.

"Soal berapa nilai idealnya, saya kira nilai rupiah yang sesuai dengan fundamental ekonomi nasional dibanding fundamental ekonomi Amerika, terutama perbandingan angka pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga Indonesia dibanding dengan pertumbuhan, inflasi, dan suku bunga Amerika, adalah sekitar 14.500 - 14.750 per dolar AS," kata dia menerangkan saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (21/9/2022).

Kendati begitu, dengan kondisi ekonomi global yang serba tidak pasti, ditambah tekanan The Fed, BI perlu melakukan intervensi. Misalnya, menahan nilai tukar di level Rp 14.900-an per dolar AS.

"Hanya saja, dengan kondisi ekonomi global yang tak pasti dan tekanan dari The Fed, jika BI mampu melakukan intervensi untuk mempertahan rupiah di level 14.900an saja udah cukup bagus, selama fluktuasinya tidak terlalu tinggi," ujar dia.

"Karena sebenarnya, yang dibutuhkan oleh dunia usaha adalah kepastian nilai tukar, sehingga mereka bisa melakukan perhitungan usaha dan proyeksi bisnis ke depanya," tambahnya menerangkan.

Ia mengamini kalau fluktuasi mata uang rupiah beberapa waktu belakangan memang kurang menggambarkan fundamental ekonomi nasional. Pergerakannya sejak akhir tahun lalu sangat dipengaruhi oleh psikologi dan sentimen pasar atas kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga The Fed.

"Yang berpengaruh langsung pada besaran capital outflow, terutama dari sektor finansial. Sehingga, mau tidak mau, nilai rupiah saat ini akhirnya menjadi undervalued, lebih rendah dari underlyingnya, yakni kinerja ekonomi yang relatif cukup baik," paparnya.

3 dari 3 halaman

Dampak Positif

Di sisi lain, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS membawa dampak positif. Misalnya, terhadap kinerja ekspor dan tentunya pendapatan dari kegiatan ekspor.

"Dampak positifnya akan dinikmati oleh eksportir dan pemerintah. Eksportir akan mengantongi kelebihan selisih mata uang dari volume ekspor yang sama, karena saat mereka mengonversi dolar yang mereka terima akan mendapatkan jumlah rupiah yang lebih banyak," tuturnya.

"Begitu pula dengan penerimaan negara dari ekspor, yang tentu juga akan ikut naik, seiring dengan peningkatan penerimaan para eksportir, walaupun volumenya ekspornya tetap sama," tambah Ronny.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.