Sukses

Dibayangi Kenaikan Kasus Covid-19, Rupiah Ditutup Stagnan di 14.170 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore ditutup stagnan, masih dibayangi sentimen kenaikan kasus Covid-19. Rupiah ditutup stagnan di posisi 14.170 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan pada Kamis kemarin.

"Hingga sore ini kelihatannya sentimen negatif soal meningginya virus, masih mendominasi pasar," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra dikutip dari Antara, Jumat (13/11/2020). Hal tersebut mempengaruhi gerak rupiah

Menurut Ariston, pasar menanggapi secara negatif kenaikan tinggi kasus Covid-19 di AS yang bisa menghambat pemulihan ekonomi di negara tersebut, yang mendorong pelemahan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya.

Namun pelaku pasar juga mewaspadai sentimen kenaikan kasus Covid-19 tersebut, yang dinilai juga bisa menjadi sentimen negatif untuk nilai tukar pasar berkembang (emerging markets).

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi 14.150 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran 14.150 per dolar AS hingga 14.220 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat menunjukkan rupiah melemah menjadi 14.222 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi 14.187 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Gubernur BI Sebut Rupiah Masih Undervalued

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal terus menguat. BI melihat bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih di bawah nilai semestinya. 

"Sekarang diperdagangkan sekitar 14.100 per dolar AS. Kami melihat bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk menguat, kami melihat bahwa level sekarang secara fundamental masih undervalued," katanya dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (12/11/2020).

Menurut Perry, jika melihat fundamental ekonomi Indonesia yang ada saat ini, nilai tukar rupiah masih jauh di bawah nilai fundamental. Oleh sebab itu, dia meyakini rupiah masih akan bisa menguat.

Dia mencontohkan dari sisi inflasi, saat ini masih berkisar di level 1,44 persen secara tahunan pada Oktober 2020. Sedangkan transaksi berjalan defisit USD 2,9 miliar kuartal II-2020 dan premi risiko menurun.

"Dengan melihat bahwa inflasi rendah, transaksi berjalan defisitnya rendah, daya tarik aset keuangan Indonesia yang tinggi dan premi risiko yang menurun," tegas dia.

Menurut Perry, beberapa indikator risiko di pasar keuangan juga mulai mereda sehingga bisa mendorong rupiah. contohnya adalah Credit Default Swap (CDS) yang di posisi 73 dan VIX Index di posisi 26 meskipun ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi.

"Di pasar keuangan global juga ketidakpastian mulai turun meski tetap tinggi karean faktor geopolitik dan second wave Pandemi COVID. VIX dan CDS turun terutama di bulan-bulan November setelah pemilu di AS," ucap dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: