Sukses

Minyak Dunia Anjlok, Harga BBM Bisa Langsung Turun?

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia memang mengalami penurunan hingga sempat menyentuh di level USD 20 per barel. Namun penurunan tersebut tidak membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) langsung turun.

Pengamat Energi Sofyano Zakaria mengatakan, Indonesia merupakan negara yang pengadaan minyaknya dilakukan secara berkala, dengan skema tersebut BBM yang didatangkan saat ini dibelinya sudah sejak beberapa bulan lalu dengan harga saat itu.

"BBM yang tersedia saat ini, pada dasarnya adalah BBM yang dibeli sejak 2 atau 3 bulan yang lalu," kata Sofyano, di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Menurutnya, dengan skema tersebut penurunan harga minyak dunia yang terjadi pada beberapa waktu belakangan, tidak bisa membuat harga BBM langsung diturunkan.

“Jika dipaksa harus turun, maka ini bisa membuat rugi Pertamina sebagai badan yang diandalkan negeri ini dalam penyediaan BBM negeri ini," jelasnya.

Terkait fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah seharusnya mengambil kebijakan saat harga turun, yaitu selisih harga yang dihasilkan akibat penururunan itu disimpan sebagai cadangan, kemudian digunakan untuk menahaan kenaikan harga BBM ketika harga minyak dunia naik kembali.

“Tetapi terhadap harga BBM untuk industri seperti solar , maka Pertamina tentunya harus menyesuaikan harga jualnya karena selama ini harga industri selalu dikoreksi per setiap tanggal 1 dan tanggal 15 pada setiap bulannya," tandasnya.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Harga Minyak Indonesia Anjlok hingga USD 22,38 per Barel

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 kembali menekan harga minyak dunia. Kondisi ini berdampak pula pada pergerakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) bulan Maret 2020.

"ICP Maret jadi USD 34,23/barel atau turun US D22,38/barel dari USD 56,61/barel pada Februari 2020," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, dalam situs Kementerian ESDM, Minggu (5/4/2020).

Besaran ICP tersebut, imbuh Agung, tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 79.K/12/MEM/2019 tentang Penerapan Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Maret 2019 yang efektif mulai berlaku sejak 1 April 2020.

Agung menjelaskan, penyebab utama dari penurunan ICP adalah penyebaran Covid-19 di sebagian besar negara-negara produksi minyak mentah sehingga mengakibatkan anjloknya penurunan produksi.

"Travel restriction di sejumlah negara turut mengakibatkan permintaan minyak global jadi menurun drastis," ungkapnya.

International Energy Agency (IEA) melaporkan proyeksi permintaan minyak mentah global di tahun 2020 turun sebesar 1,1 juta barel per hari menjadi 99,90 juta barel per hari.

Di sisi lain, IEA mengungkapkan adanya peningkatan stok minyak mentah AS pada bulan Maret 2020 sebesar 11,3 juta barel menjadi sebesar 455,4 juta barel dibandingkan bulan Februari 2020.

Sementara laporan OPEC menunjukkan proyeksi permintaan minyak mentah global di tahun 2020 turun sebesar 1 juta barel per hari menjadi 99,73 juta barel per hari.

3 dari 3 halaman

Rincian Harga

OPEC melansir bahwa penurunan permintaan minyak di pasar internasional dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Pertumbuhan GDP Dunia tahun 2020 sebesar 0,6 persen menjadi sebesar 2,4 persen akibat melemahnya perekonomian sejumlah negara maju dan dampak serangan Covid-19.

Faktor utama lain dari perubahan ICP Maret, jelas Agung, adalah keputusan Arab Saudi menurunkan harga jual minyak mentah mereka untuk merebut pangsa pasar dan berencana untuk meningkatkan produksi setelah Rusia menolak bergabung dalam rencana tambahan pemotongan produksi OPEC+. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar atas kondisi yang telah over supply.

Sedangkan menurut Tim Harga Minyak Indonesia, crude oil throughput kilang-kilang di Jepang berkurang sebesar 2,81 juta barel per hari dibandingkan kapasitas kilang sebesar 3,52 juta barel per hari di akhir bulan Maret 2020 jadi faktor penentu di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, kilang-kilang di Korea Selatan juga mengurangi konsumsi minyak mentah AS dan beralih ke minyak mentah Timur Tengah seiring berkurangnya spread WTI-Dubai, serta diskon harga minyak mentah Timur Tengah.

Selengkapnya perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Maret 2020 dibandingkan bulan Februari 2020:

- Dated Brent turun sebesar USD 23,61 per barel dari USD 55,44 per barel menjadi USD 31,83 per barel.

- WTI (Nymex) turun sebesar USD20,09 per barel dari USD 50,54 per barel menjadi USD 30,45 per barel.

- Basket OPEC turun sebesar USD 21,03 per barel dari USD 55,49 per barel menjadi USD 34,46 per barel.

- Brent (ICE) turun sebesar USD 21,75 per barel dari USD 55,48 per barel menjadi USD 33,73 per barel.

- ICP SLC sebesar USD 35,78 per barel dari USD 57,18 per barel pada Februari 2020.