Sukses

Harga Telur Sentuh Rp 24 Ribu per Kg di Pasar Tomang Barat

Liputan6.com, Jakarta - Harga telur terpantau sedikit naik di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat. Harga telur naik antara Rp 1.000-2.000 per kg dibandingkan pekan lalu.

"Hari ini Rp 24 ribu sekilonya, naik Rp 2.000 ribu," ucap Taufik (25) kepada Liputan6.com, Senin (19/11/2018).

Untuk telur ayam kampung (organik) masih di harga normal Rp 2.400 dan telur puyuh dijual Rp 35 ribu per kg. Sementara telur pecah dijual Rp 1.000. Telur asin dan bebek masing-masing dibanderol seharga Rp 3.500 dan 3.000.

Taufik menceritakan bahwa penjualan telur sedang sepi. Kondisi ini juga diperparah dengan harga yang sedang naik.

"Bulan November sepi, harga telurnya naik lagi," ujar Taufik. Ia pun tidak tahu ketika ditanya mengenai alasan terjadinya kenaikan harga.

Martini (50), juga menjual telur di harga Rp 24 ribu per kg, dan minggu lalu seharga Rp 22-23 ribu. Di lapaknya, ayam kampung dijual Rp 2.200 per butir sementara yang merah (organik) Rp 2.400 per butir.

Lebih lanjut, telur puyuh dijual Rp 35 ribu/kg. Telur bebek Rp 3.000. Ia berkata bahwa penjualan masih stabil.

Saat ditanya prediksi harga telur di akhir tahun, Martini menyebut harga biasanya akan naik.

"Biasalah akhir tahun, banyak momen hari raya, biasa orang suka pesta. Jadi kebutuhan pasti naik, konsumsinya naik, ya naik sedikit," ungkapnya meski ia tidak tahu berapa harga pastinya.

2 dari 2 halaman

Mendag: Harga Telur dan Ayam Berpotensi Naik di Akhir Tahun

Harga telur dan ayam berpotensi naik pada akhir tahun ini. Ini seiring tingginya permintaan warga menjelang Natal dan Tahun Baru.

Ini diungkapkan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita."Telur dan ayam ada potensi kenaikan harga," kata dia di Batam, seperti mengutip Antara, Minggu, 11 Novembr 2018.

Ia mengatakan saat menjelang Natal dan Tahun Baru, kebutuhan masyarakat akan telur meningkat, sedangkan pasokannya relatif mengkhawatirkan.

"Suplainya, saya khawatir berkurang, mudah-mudahan tidak, maka akan jadi persoalan," kata dia. Dia pun meminta seluruh kepala dinas perdagangan untuk terus mengawasi kenaikan harga komoditas itu.

Menteri menjabarkan, pemerintah sebenarnya sudah menerapkan strategi untuk menekan kenaikan harga telur. Ini sejak komoditas itu mengalami penurunan harga beberapa waktu lalu.

"Saat harga telur turun, kami justru menaikkan harga batas bawah dan meminta pedagang retail modern membeli harga lebih tinggi sehingga para peternak tidak mengalami kerugian," kata dia.

Bila harga telur dibiarkan melemah, maka ia khawatir peternak memilih afkir dini, memotong ayam petelur. Pada akhirnya, pasokan telur berkurang dan harga akan meningkat lebih tinggi.

"Kami meminta tolong koordinasi dengan pasar, membeli jangan terlalu rendah," kata dia.

Selain telur dan ayam, harga cabai merah dan cabai keriting juga berpotensi naik, dipengaruhi keterbatasan pasokan karena sudah memasuki musim hujan.

Sementara itu, secara keseluruhan menurut mendag, harga komoditas pangan relatif stabil, tidak terlalu mempengaruhi inflasi. "Kontribusi volatile food tidak tinggi pada inflasi," kata dia. Pasokan beras relatif mencukupi, demikian pula minyak goreng, daging, bawang putih dan bawang merah.

Loading
Artikel Selanjutnya
Top 3 Berita Hari Ini: Resepsi Mewah Mantan Kapolsek Kembangan yang Digelar di Tengah Pandemi Corona COVID-19
Artikel Selanjutnya
Tes Seberapa Fokus Otak Anda, Berapa Kaki yang Dilihat?