Harga Emas Anjlok ke US$ 3.989 Imbas Ketegangan di Timur Tengah

Harga emas dunia kini berada di bawah US$ 4.000 dipicu sejumlah faktor, salah satunya meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 06:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Koreksi harga emas dunia terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) lebih tinggi. Hal itu meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat harapan kenaikan suku bunga AS.

Mengutip CNBC, Jumat (17/7/2026), harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 3.989,95 per ons, setelah turun 2%. Kontrak berjangka emas AS merosot 1,4% menjadi US$ 3.994,30.

Pelaku pasar sekarang memperkirakan sekitar 55% kemungkinan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September, menurut CME FedWatch Tool.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun acuan sedikit meningkat. Dolar AS menguat sekitar 0,3%, membuat emas batangan lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Di sisi lain, Ketua Fed Kevin Warsh minggu ini menyatakan tekadnya untuk menurunkan inflasi tanpa secara spesifik memberikan petunjuk tentang caranya.

Sementara itu, data yang dirilis pada Selasa menunjukkan inflasi konsumen AS melambat pada Juni, sedangkan data dari hari Rabu menunjukkan penurunan indeks harga produsen.

“Meskipun beberapa data ekonomi jangka pendek melunak, harga energi yang terus tinggi akan menyulitkan The Fed untuk mengadopsi sikap yang lebih lunak. Karena alasan yang sama, investor lebih memilih dolar daripada emas yang tidak memberikan imbal hasil,” ujar Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, dalam sebuah catatan.

Harga Emas Dunia Bertahan di Atas US$ 4.000

Sebelumnya, harga emas dunia memangkas pelemahan pada perdagangan Rabu setelah Amerika Serikat (AS) merilis data inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Meski begitu, kekhawatiran terhadap inflasi dan tingginya suku bunga masih membayangi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Kamis (16/7/2026), harga emas di pasar spot turun 0,2% ke level US$ 4.047,27 per ounce, setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1% pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS melemah 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per ounce.

Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan bahwa harga emas berhasil memangkas pelemahannya setelah data PPI AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar.

"Harga emas berhasil memangkas pelemahannya sejak pagi setelah data PPI dirilis lebih rendah dari perkiraan. Hal itu meredakan sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan beberapa kali menaikkan suku bunga pada tahun ini," kata Chief Market Strategist Blue Line Futures Phillip Streible.

Menurut Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics, indeks harga produsen (PPI) turun 0,3% pada Juni setelah pada Mei direvisi naik 0,6%.

Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak mengalami perubahan pada Juni, setelah laporan awal menunjukkan kenaikan 1,1% pada Mei.

 

 

Data Inflasi Produsen

Data inflasi produsen yang lebih lemah ikut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2%, dari sebelumnya 16,6% sebelum data PPI diumumkan.

Sehari sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan laju kenaikan harga melambat lebih besar dibandingkan perkiraan analis. Kondisi tersebut memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda sehingga ruang kenaikan suku bunga semakin terbatas.

Namun, sentimen positif tersebut dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di sejumlah pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut.

Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6