Prediksi Rupiah Hari Ini 17 Juli 2026, Sentimen Timur Tengah Membayangi

Sejumlah sentimen eksternal masih mempengaruhi Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jelang libur akhir pekan.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 08:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026 di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya tensi geopolitik global.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal, terutama arah suku bunga Federal Reserve, pergerakan dolar AS, serta perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia.

"Untuk perdagangan Jumat, 17 Juli 2026 mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.986 - Rp 18.030," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Adapun nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026 di Rp 17.986 per dolar Amerika Serikat di tengah meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

"Pada perdagangan sore ini (Kamis-red), mata uang rupiah ditutup menguat 82 point sebelumnya sempat menguat 85 point di level Rp 17.986 dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.068," ujarnya.

Faktor Internal Pengaruhi Pergerakan Rupiah

Ibrahim menjelaskan, di dalam negeri yang mempengaruhi pergerakan rupiah yakni Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.

Sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.

"Pemerintah juga akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan," ujarnya.

BI dan S&P Global

Selain itu, kata Ibrahim Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia.

Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings. S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75%. Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan.

"Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia. Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," pungkasnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6