Pinjaman Online Sudah Layani 1 Juta Penerima

Aftech menyatakan layanan Peer to Peer (P2P) lending cash loan telah mengisi kesenjangan kebutuhan pembiayaan di Indonesia.

Diterbitkan 30 Agustus 2018, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi financial technology Indonesia (Aftech) menyatakan salah satu kelompok fintech dengan layanan Peer to Peer (P2P) lending cash loan telah mengisi kesenjangan kebutuhan pembiayaan di Indonesia. Ini ditunjukkan dengan penerimaan pinjaman mencapai satu juta penerima pinjaman.

"Hingga kini pinjaman online telah mencapai 1 juta penerima pinjaman dan layanan P2P Lending Cash Loan mengisi kesenjangan kebutuhan pembiayaan di Indonesia dan membuka akses bagi mereka yang unbanked (namun layak kredit)," tutur Direktur Aftech, Aji Sastria Sulaeman di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta, Kamis (30/8/2018).

Aji menuturkan, pertumbuhan P2P lending ini berkembang pesat di dalam negeri. Saat ini, penyaluran kredit P2P Lending mencapai hampir Rp 7,42 triliun dengan jumlah pemberi pinjaman 123 ribu pihak. Ditambah 1 juta penerima pinjaman. 

Sementara itu, Ketua Bidang Pinjaman Cash Loan Aftech, Sunu Widyatmoko mengatakan masyarakat harus terus diberikan pemahaman akan P2P Lending Cash Loan. Sunu menilai, hal ini untuk menghindarkan masyarakat akan tawaran pinjaman online ilegal yang dapat merugikan masyarakat.

"Praktik ilegal tersebut tidak saja merugikan secara finansial, tetapi juga tidak tunduk pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ketentuan yang telah disepakati oleh anggota Aftech," kata dia.

Sunu mengungkapkan, setidaknya hingga kini sekitar 64 perusahaan financial technology P2P lending telah terdaftar di OJK. "Pilihlah perusahaan fintech P2P Lending Cash Loan yang sudah terdaftar di OJK. Saat ini sudah 64 perusahaan fintech P2P Lending terdaftar di OJK," tambah dia.

Seperti diketahui, ada sejumlah kelompok termasuk fintech antara lain crowdfunding, peer to peer landing, aggregator, manajemen risiko dan investasi.

 

 

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

 

INDEF: Fintech Sumbang Rp 25,97 Triliun terhadap PDB

Sebelumnya, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama dengan Asosiasi Fintech lndonesia (AFTECH) membuat sebuah kajian tentang peran Financial Technology (Fintech) terhadap ekonomi Indonesia dengan menggunakan analisis Input-Output (l-O). 

Dari hasil tersebut, ditemukan hasil perkembangan Fintech di dalam negeri mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 25,97 triliun.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira menyatakan, potensi industri Fintech ke depan sangat menjanjikan.

Dalam riset ini, ia menyebutkan, pihaknya memakai data terakhir milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada kuartal II 2018 seputar total penyaluran dana pinjaman sebesar Rp 7,64 triliun, dengan jumlah peminjam 1,47 juta orang.

"Flashback ke 2016. Dari basic data OJK pada tahun tersebut, jumlah penyaluran dana Fintech Rp 200 miliar, sementara 2018 jadi Rp 7,6 triliun. Ada peningkatan luar biasa besar. Bukan hanya di Jakarta, tapi nasional, Rp 7,6 triliun secara agregat di semua provinsi di Indonesia," ujar dia di Menara Satrio, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2018.

Lebih lanjut, ia memaparkan, perkembangan Fintech di Tanah Air mampu meningkatkan PDB sebesar Rp 25,97 triliun, serta dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga Rp 8,94 triliun.

"Kedua hal tersebut menunjukkan keberadaan Fintech telah mampu meningkatkan perekonomian lndonesia secara makro," ungkap Bhima.

Tidak hanya itu, dia menambahkan, dari sisi dunia usaha turut terdongkrak. Besaran gaji dan upah karyawan bisa terangkat hingga Rp 4,56 triliun.

Fintech dianggapnya dapat menyuntikan sokongan dana untuk UMKM, khususnya di sektor perdagangan, keuangan dan asuransi.

"Ketiga sektor ini mempunyai peran langsung dalam pengembangan Fintech. Selain itu, kehadiran Fintech juga mampu menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 215.433 orang yang tidak hanya dari sektor-sektor tersier," ujar dia.

"Namun sektor primer seperti pertanian juga mengalami penyerapan tenaga kerja yang cukup besar, yaitu 9 ribu orang," tambah dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6