Sukses

Chatib Basri Kembangkan Blockchain buat Petani

Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan data pada sektor pertanian serta data yang tumpang tindih antar kementerian membuat informasi pada sektor ini sulit menyajikan data yang transparan.

Hal itu mungkin yang dorong Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri bergabung dengan HARA, startup berbasis blockhain yang fokus pada sektor pertanian.

Chatib menegaskan, keberadaan blockchain di sektor pertanian berdampak besar pada kehidupan petani di Indonesia ke depan. Indonesia dinilai harus berani memulai dengan blockchain mengingat data pada sektor pertanian tidak simetris (asimetris).

Ekonom ini juga mengatakan, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sulit memberikan informasi secara terintegrasi. Misalnya saja, ia menggambarkan, data ketersediaan beras yang sejak dulu tak pernah jelas secara angka.

"Dengan blockchain ini, petani kita akan sangat terbantu, karena ini akan meningkatkan produktivitas mereka. Tak hanya itu, ini juga akan memotong biaya transaksi dan meningkatkan pendapatan mereka," tutur dia di Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Oleh karena itu, Chatib menekankan, blockchain ini akan hadir sebagai penyederhanaan birokrasi yang selama ini dianggap sulit dan tak terintegrasi di sektor pertanian RI.

"Proses transaksi akan lebih cepat. Persoalannya adalah bagaimana kedepan kita bisa beri sosialisasi dan edukasi atau literasi terhadap blockchain ini. Dan tak lupa bagaimana kita bisa mengkomunikasinya dengan bahasa yang baik," kata dia.

Blockchain dinilai seperti aplikasi. Blockchain pakai sistem terdesentralisasi yang dapat buat efisiensi. Sistem ini juga memanfaatkan konsensus.

2 dari 2 halaman

Ekonomi Digital Dapat Bantu Sektor Pertanian

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Bambang Brodjonegoromengatakan, penggunaan sistem digital ekonomi sudah tidak bisa dihindari saat ini. Masyarakat Indonesia harus terus didorong agar lebih banyak menggunakan sistem digital dalam berbisnis.

"Intinya, pertama ekonomi digital sudah tidak bisa dihindari. Artinya, masa depan ekonomi dunia itu akan terkait dengan perkembangan ekonomi digital," ujar Bambang saat memberi paparan pada acara IDF 2018 di Ritz Carlton, Jakarta, Selasa 10 Juli 2018.

Bambang mengatakan, sistem ekonomi digital juga sangat penting bagi daerah. Pertama, bagi sektor pertanian, petani akan lebih mudah memperoleh informasi mengenai bagaimana sistem bertani yang baik dan menghasilkan komoditas berkualitas. 

"Kita melihat sekarang untuk daerah yang katakan basisnya adalah sektor pertanian ekonomi digital ini akan sangat membantu mereka. Kenapa, kalau kami melihat nasib para petani kita mereka mungkin punya kemampuan untuk memproduksi produk komoditas tetapi kan dalam era sekarang yang namanya pengetahuan atau teknologi itu berkembang terus," ujar dia. 

"Penyuluh belum tentu ada dalam setiap tempat jadi kita harapkan kalau ada akses terhadap internet paling tidak mereka bisa ada pengetahuan dan teknologi bagaimana memproduksi komoditas dengan lebih baik," tambah dia. 

Faktor kedua, kata Bambang, petani akan dimudahkan dengan ada berbagai fasilitas aplikasi di internet yang memberikan ragam pilihan kepada petani dalam memasarkan produk dan komoditas. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari proses perantara yang memakan cukup banyak biaya. 

"Kedua, yang akan membantu mereka adalah akses. Saat ini sudah mulai banyak aplikasi untuk petani. Tujuannya membuat mereka terakses dengan market pedagang besar. Nasib petani akan jauh lebih baik kalau dia tidak tergantung middle man. Middle man terjadi karena tidak ada informasi memadai sehingga harus tergantung kepada orang orang yang datang kepada mereka," kata dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Smartphone Blockchain HTC Meluncur Sebentar Lagi?
Artikel Selanjutnya
Teknologi Blockchain Rambah Industri Aplikasi Informasi