Sukses

Kim Jong-un dan Trump Berseteru, Perusahaan Senjata Reguk Untung

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan panas dingin yang terjadi antara Kim Jong-un dan Donald Trump ternyata tidak selamanya memberikan efek negatif pada dunia internasional. Buktinya, ada satu pihak yang mendapat keuntungan akan hal ini, mereka adalah perusahaan senjata.

Laporan yang dikeluarkan oleh International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) mengungkap, jumlah investasi yang dikeluarkan investor untuk senjata nuklir meningkat di tahun 2017. Peningkatan yang terjadi adalah sebanyak US$ 81 miliar sehingga total investasi menjadi US$ 525 miliar.

Tiga institusi finansial utama yang berinvestasi di nuklir adalah Blackrock, Capital Group dan Vanguard. Tiga firma investasi ini punya jumlah investasi hingga lebih dari US$ 110 miliar.

Riset juga menemukan bahwa ada 20 perusahaan swasta di seluruh dunia yang ikut terbawa untung akan adanya hal ini. Perusahaan seperti Boeing, Honeywell International, Lockheed Martin dan Northrup Grumman adalah salah satu penerima manfaat paling banyak dari sumber daya ini.

Dilansir dari Newsweek.com, Rabu (14/3/2018), riset itu juga mengatakan bahwa perusahaan akan membuat keputusan untuk memperbaiki persenjataan nuklir negara tersebut dan bukan mengurangi jumlah senjata nuklir di dunia.

"Musim panas lalu, Trump mengatakan bahwa ia akan melepaskan 'fire and fury' pada Korea Utara. Dua minggu setelahnya, ada beberapa kontrak yang dibawa ke permukaan. Salah satunya adalah untuk pengembangan misil jarak jauh. Lockheed Martin mendapat kontrak tersebut," kata Susi Snyder, peneliti riset ICAN.

"Dengan banyaknya investor, ketika mereka melihat banyaknya kontrak seperti ini, ini merupakan waktu yang tepat untuk seseorang untuk berinvestasi di perusaah tersebut. Orang-orang hanya ingin menghasilkan uang," ia melanjutkan.

1 dari 2 halaman

Lingkaran setan

Snyder mengatakan bahwa kontrak pemerintah dan peningkatan investasi swasta menciptakan lingkaran setan. Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut untuk terus tumbuh dan mengajukan penawaran pada kontrak pemerintah yang lebih menguntungkan sehingga akibatnya mereka bakal membangun senjata yang lebih berbahaya.

Di negara-negara bersenjata nuklir seperti Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, pemerintah sering mempekerjakan perusahaan swasta untuk membangun dan memelihara persenjataan nuklir negara tersebut. Di negara lain dengan senjata nuklir, seperti Rusia, China, dan Pakistan, instansi pemerintah bertanggung jawab atas senjata nuklir negara tersebut.

Artikel Selanjutnya
Harga Minyak Tergelincir Imbas Produksi AS Capai Rekor
Artikel Selanjutnya
Trump Pecat Menlu Rex Tillerson, Wall Street Berguguran