Adik Kim Jong Un: Denuklirisasi Korut Itu Mimpi Kosong

Korea Utara makin mempercepat pengembangan program nuklirnya sejak diplomasi antara Kim Jong Un dan Trump gagal capai kesepakatan pada 2019.

Diterbitkan 07 Juni 2026, 15:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pyongyang - Saudari pemimpin Korea Utara yang berpengaruh, Kim Yo Jong, menegaskan negaranya tidak akan meninggalkan program senjata nuklir dan menyebut dorongan Amerika Serikat untuk denuklirisasi sebagai "mimpi usang" yang tidak lagi relevan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong pada Minggu (7/6/2026), sehari sebelum kunjungan Presiden China, Xi Jinping, ke Korea Utara untuk bertemu pemimpin negara itu, Kim Jong Un.

Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong menolak klaim Amerika Serikat yang menyebut Washington dan Beijing memiliki tujuan bersama untuk mendorong denuklirisasi Korea Utara. Menurutnya, status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah oleh pernyataan sepihak pihak lain.

"Pernyataan AS yang mengkritik status Republik Demokratik Rakyat Korea sebagai negara senjata nuklir tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat," kata Kim Yo Jong, dikutip dari laman Arab News, Minggu (7/6).

Ia juga menyebut sejumlah pejabat AS masih terjebak dalam "mimpi pelarian dan usang" terkait harapan denuklirisasi Korea Utara.

Pernyataan keras tersebut muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, dan Xi Jinping dilaporkan kembali menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi Semenanjung Korea dalam pertemuan mereka di Beijing bulan lalu.

Korea Utara diketahui semakin mempercepat pengembangan program nuklirnya sejak diplomasi antara Kim Jong Un dan Trump gagal mencapai kesepakatan pada 2019.

Pekan lalu, Kim Jong Un mengunjungi fasilitas produksi material nuklir dan menyatakan kekuatan nuklir negaranya akan diperkuat dengan "laju eksponensial". Media pemerintah Korea Utara pada Minggu juga melaporkan bahwa Kim baru saja mengunjungi pabrik senjata dan memerintahkan peningkatan kapasitas produksi rudal hingga 2,5 kali lipat dalam periode rencana pembangunan lima tahun.

Kim Yo Jong menuding Amerika Serikat dan Korea Selatan terus meningkatkan kemampuan militernya di kawasan. Karena itu, menurut dia, kebijakan memperkuat kemampuan penangkal nuklir Korea Utara merupakan keputusan yang tidak dapat ditawar lagi.

"Memperkuat penangkal perang nuklir untuk membela diri adalah kesimpulan akhir yang tidak dapat diubah dan harus dilaksanakan tanpa syarat," ujarnya.

 

Jelang Kunjungan Xi Jinping

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, yang akan menjadi kunjungan pertama pemimpin China itu ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir.

Sejumlah analis menilai agenda utama kunjungan Xi adalah menegaskan kembali pengaruh Beijing terhadap Pyongyang, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin mendekat ke Rusia.

Hubungan Korea Utara dan Rusia menguat sejak perang di Ukraina. Korea Utara dituduh memasok pasukan serta persenjataan konvensional untuk membantu operasi militer Moskow. Sebagai imbalannya, Seoul dan Washington menuduh Rusia memberikan bantuan ekonomi dan dukungan lainnya kepada Pyongyang.

Di tengah dinamika tersebut, sikap terbaru Kim Yo Jong mempertegas bahwa Korea Utara belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke meja perundingan denuklirisasi dalam waktu dekat.