Sukses

Geliat Aktivitas Bisnis Properti di Sepanjang Tol Medan-Binjai

Liputan6.com, Jakarta Beroperasinya tol Medan-Binjai seksi 2-3 sepanjang 10,5 kilometer (km) yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pertengahan Oktober lalu mulai membawa dampak positif terhadap geliat bisnis properti di sejumlah kawasan yang dilalui jalan tol tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI), Dhody Thahir mengungkapkan sebagian besar kawasan yang dilalui jalan tol Medan-Binjai merupakan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baik industri maupun perdagangan.

Beberapa pengembang selama ini juga sudah mulai melakukan pengembangan proyek perumahan atau komersial di kawasan sepanjang ruas tol tersebut.

“Dengan ditambah akses tol, maka ini memberikan pengaruh positif terhadap sektor properti di kawasan itu. Saya memperkirakan pembangunan proyek properti di situ akan semakin marak,” papar dia kepada Liputan6.com, Jumat (17/11/2017).

Bila keseluruhan tol Medan-Binjai rampung, maka waktu tempuh dari Medan ke Binjai atau sebaliknya akan semakin singkat, yaitu 10-20 menit.

Layaknya Bogor, Bekasi, atau Serpong bagi Jakarta, menurut Dhody, nantinya Binjai akan menjadi kota satelit atau penyangga penting bagi Kota Medan.

“Nantinya Binjai akan menjadi seperti kawasan Bodetabek di Jakarta. Masyarakat kerja di Medan tetapi tinggal di Binjai dan sekitarnya. Apalagi kedua kota ini juga sudah ditunjang sarana kereta api. Ini akan mempercepat pertumbuhan pusat ekonomi baru di Sumut,” kata Dhody yang juga pengembang senior di Sumatera Utara tersebut.

 

2 dari 2 halaman

Fokus ke Perumahan Bersubsidi

Adapun ruas tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi yang diresmikan bersamaan dengan tol Medan-Binjai disebutkan belum banyak berdampak pada pengembangan properti di Sumut.

Sebab, kata Dhody, pengembang selama ini masih fokus melakukan pembangunan perumahan di daerah Deli Serdang terutama perumahan bersubsidi. Apalagi, jalan tol yang beroperasi baru sampai Sei Rampah sehingga belum tersambungkan dengan Kota Tebing Tinggi.

Namun, meski belum berdampak positif terhadap pertumbuhan pasar properti, diakui harga tanah dan properti di sepanjang ruas tol itu sudah mengalami kenaikan. Harga properti di daerah itu bahkan sudah naik 20 persen sejak pembangunan tol tersebut pada 2015.

“Masalahnya daya beli konsumen turun, jadi kenaikan harga itu belum begitu terasa,” papar Presiden Direktur Cendana Karya Graha Group itu.

Pemerintah terus mengebut pembangunan jalan tol di Sumatera Utara yang nantinya akan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional di provinsi tersebut, seperti Kawasan Industri Medan (KIM), Bandara Kualanamu, Pelabuhan Kuala Tanjung, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke, serta akses menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba.

Pembangunan ini sejalan dengan amanat Nawacita untuk meningkatkan konektivitas sebagai komponen penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia.

Loading