Ahok: Saya Bukan Minta Dukungan PDIP, Saya Minta Djarot

Ahok meminta Djarot karena menilai Heru masih muda dan dapat berkontribusi lebih panjang sebagai PNS.

oleh Delvira Hutabarat diperbarui 19 Agu 2016, 13:01 WIB
Gubernur DKI, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama ketika menyampaikan pidato pada peresmian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jalan Mawar RT 008 RW RW 02, Kelurahan Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (26/4). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyatakan maksud kedatangannya ke DPP PDIP pada 17 Agustus 2016 bukan untuk meminta dukungan kepada partai tersebut pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Kedatangannya untuk meminta Djarot sebagai wakilnya.

"Bukan minta dukungan, saya cuma minta Djarot. Makanya terserah (PDIP dukung atau tidak). Saya enggak minta PDIP loh, saya minta Djarot, mau enggak ikut saya jadi wakil? Saya dari dulu minta Djarot. Ibu (Mega) aja marah-marah kok dulu (2012)," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Ahok menjelaskan alasannya lebih memilih Djarot daripada Heru Budi. Dia menilai Heru masih muda dan dapat berkontribusi lebih panjang sebagai PNS.

"Lebih enak sama Djarot, karena Heru masih muda. Kita juga butuh PNS  di sini yang baik, dia masih muda," ucap Ahok.

Dia menyebut sejak awal berani maju pilkada dengan atau tanpa parpol.

"Saya enggak apa-apa (dukungan PDIP belum bulat), kan, saya udah tiga partai juga. Nah kan, saya pikir ya nanti salah ngomong lagi saya (tidak perlu dukungan PDIP) he-he-he. Buat saya dari dulu ya, perseorangan aja saya berani kok, tanpa semua partai aja saya berani," ujar Ahok.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya