AI Bisa Prediksi Risiko Kematian Pasien Kanker Lewat Foto Wajah

AI bisa memperkirakan risiko kematian pasien kanker dari foto wajah. Bagaimana sistem ini membaca tanda-tanda kesehatan seseorang?

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 14:09 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti mengembangkan artificial intelligence (AI) yang mampu menganalisis foto wajah untuk memperkirakan usia biologis dan risiko kematian pasien kanker.

Teknologi ini berpotensi membantu dokter menilai kondisi pasien sebelum menentukan pilihan pengobatan.

Dikutip dari Digital Trends, Senin (26/10/2026), penelitian yang dilakukan tim Mass General Brigham itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah The Lancet Digital Health.

Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik wajah bisa memberikan informasi tambahan mengenai kondisi kesehatan pasien.

Sistem ini bernama FAHR-Face, model AI yang dilatih menggunakan lebih dari 40 juta foto wajah dari berbagai kelompok usia dan etnis. Peneliti kemudian mengembangkan dua alat dengan fungsi berbeda untuk memperkirakan kondisi biologis dan potensi risiko kematian.

Alat pertama, FAHR-FaceAge, memperkirakan usia biologis berdasarkan penampilan wajah. Sementara itu, FAHR-FaceSurvival menilai risiko kematian pasien kanker secara langsung melalui foto, tanpa harus menghitung usia biologis terlebih dahulu.

Dalam pengujian, pasien dengan skor tertinggi dari FAHR-FaceSurvival memiliki risiko kematian lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pasien dengan skor terendah. Hubungan ini tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor klinis.

 

Hasil AI Belum Bisa Memastikan Peluang Hidup Pasien

Hasil lain menunjukkan pasien kanker yang terlihat setidaknya lima tahun lebih tua daripada usia sebenarnya memiliki risiko kematian 21% lebih tinggi selama masa pemantauan rata-rata empat tahun.

Sebaliknya, pasien yang tampak setidaknya lima tahun lebih muda memiliki risiko kematian 17% lebih rendah.

Kedua alat ini juga menganalisis bagian wajah yang berbeda. FAHR-FaceAge berfokus pada kerutan di sekitar hidung dan mulut, dahi, serta pelipis. Sementara itu, FAHR-FaceSurvival memperhatikan area di bawah mata dan sekitar pangkal hidung.

Meski begitu, hasil pengujian tersebut tidak berarti foto wajah bisa menentukan secara pasti berapa lama seseorang akan bertahan hidup. Temuan itu menggambarkan hubungan statistik pada kelompok pasien, bukan kepastian mengenai kondisi setiap individu.

 

AI Bisa Membantu Dokter Menilai Kondisi Pasien

Peneliti juga menemukan hubungan antara kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan narkoba dengan penampilan wajah yang secara biologis lebih tua.

Selain itu, model untuk memperkirakan usia biologis menunjukkan hasil yang konsisten pada berbagai kondisi foto, termasuk perbedaan pencahayaan, ekspresi wajah, dan penggunaan riasan.

Ahli onkologi radiasi yang terlibat dalam penelitian, Raymond Mak, mengatakan teknologi ini diharapkan membantu dokter menilai kondisi fisik pasien sebelum merekomendasikan perawatan intensif, seperti radioterapi atau operasi.

 

Penggunaan AI Masih Membutuhkan Penelitian Lanjutan

Analisis wajah berpotensi memberikan informasi tambahan ketika penanda biologis konvensional belum tersedia.

Namun, teknologi ini dirancang untuk mendukung pertimbangan medis, bukan menggantikan keputusan dokter.

Penggunaan secara luas masih membutuhkan penelitian lanjutan dan validasi klinis. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah sistem tersebut benar-benar membantu dokter mengambil keputusan pengobatan di lingkungan rumah sakit.

Â