69 Persen Server di Indonesia Terancam Diretas Akibat Celah PHP

69,6 persen atau sekitar 7 dari 10 server berbasis PHP di Indonesia terancam diambil alih hacker secara penuh.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 10:21 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan darurat terkait keamanan siber nasional kembali mencuat. Hasil pemindaian perusahaan penyedia keamanan siber Vaksincom per 23 Oktober 2026, mengungkapkan fakta memprihatinkan.

Vaksincom menemukan ada 69,6 persen atau sekitar 7 dari 10 server berbasis PHP di Indonesia terancam diambil alih hacker (peretas) secara penuh.

Dalam laporannya, dikutip Senin (26/10/2026), ancaman ini dipicu oleh ditemukannya celah keamanan kritis berskala internasional yang dinamai PHP2Shell.

Celah dengan skor keparahan 9,2 dari 10 (CVSS) ini memungkinkan peretas menjalankan kode dari jarak jauh (remote code execution) tanpa perlu login atau memiliki hak akses sama sekali.

Dari total 89.193 host terdeteksi aktif di internet Indonesia, sebanyak 69.546 di antaranya menggunakan PHP versi End of Life (EOL).

Artinya, mayoritas server tersebut tidak lagi mendapatkan pembaruan atau penambal (patch) keamanan resmi dari pengembangnya.

Sebaliknya, server yang benar-benar telah aman dan menerapkan penambal perbaikan baru menyentuh angka 226 host atau 0,2 persen saja.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sektor Publik dan Swasta Paling Rentan

Temuan Vaksincom menunjukkan bahwa sektor vital seperti pemerintahan (.go.id) dan korporasi swasta (.co.id) memikul risiko tertinggi.

Hampir seluruh server di kedua sektor tersebut—yakni sebesar 96,7 persen—masih bergantung pada PHP versi tua yang sudah kedaluwarsa, terutama versi 5.6.40 yang dukungannya dihentikan sejak akhir 2018.

Tingkat kerentanan tinggi juga ditemukan pada institusi pendidikan. Sektor perguruan tinggi (.ac.id) mencatatkan angka EOL sebesar 88,7 persen, sementara sektor sekolah (.sch.id) mencapai 69,9 persen.

Daftar 10 versi PHP terbanyak yang terdeteksi di Indonesia didominasi oleh rilis lama. PHP 8.2.12 berada di urutan teratas dengan 8.988 temuan yang butuh update segera, disusul versi EOL seperti PHP 5.6.40 (6.598 temuan) dan PHP 7.4.33 (4.965 temuan).

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai masalah utama di lapangan bukan sekadar keengganan memperbarui sistem, melainkan keterikatan pada aplikasi warisan (legacy system).

"Mengubah versi PHP pada sistem lama sering kali menuntut perombakan total pada struktur kode aplikasi agar cocok dengan lingkungan PHP modern," ujarnya.

Selain itu, Alfons menambahkan, banyaknya temuan versi PHP tertentu mengindikasikan bahwa sejumlah server publik dipasang menggunakan paket instalasi instan seperti XAMPP.

"Padahal, paket tersebut hanya dirancang untuk tahap uji coba pengembangan, bukan untuk server produksi yang terbuka ke internet," ia memungkaskan.

 

 
 
 
 
 

Cara Cegah Peretasan

Guna mencegah gelombang peretasan massal, pengelola infrastruktur TI diimbau segera mengambil langkah penyelamatan berikut:

  • Audit Menyeluruh: Periksa seluruh versi PHP pada server organisasi, termasuk jaringan intranet.
  • Pembaruan Versi: Tingkatkan versi PHP aktif (8.2 hingga 8.5) ke rilis aman terbaru, seperti 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, atau 8.5.12.
  • Isolasi Sistem Tua: Bagi sistem EOL yang belum bisa dimigrasi, gunakan batasan akses ketat seperti WAF/VPN serta pasang backported patch dari distribusi Linux.
  • Sembunyikan Informasi Header: Matikan opsi expose_php = Off pada konfigurasi php.ini untuk menyulitkan pemindaian otomatis oleh botnet peretas.
  • Segmentasi Jaringan: Pantau log server dari lonjakan error dan pisahkan jaringan server web agar peretasan tidak menyebar ke data penting lain.

Demi menjaga stabilitas keamanan nasional, daftar spesifik instansi atau domain yang rentan tidak dipublikasikan dan telah dikoordinasikan secara tertutup bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)

 
 
 
 
Â