Perusahaan Jepang Hati-Hati Gunakan AI, Ada Faktor Tak Terduga

Perusahaan-perusahaan di Jepang dinilai masih cukup berhati-hati dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI)

Diterbitkan 16 Agustus 2026, 09:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan-perusahaan di Jepang dinilai masih cukup berhati-hati dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), meski negara tersebut tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja, populasi yang menua, serta persoalan produktivitas. Dibandingkan perusahaan di Amerika Serikat dan Inggris, penggunaan AI di lingkungan kerja Jepang masih tergolong lambat dan penuh pertimbangan.

Kondisi tersebut terbilang menarik, karena kebutuhan terhadap teknologi untuk membantu pekerjaan justru cukup besar. Kekurangan tenaga kerja semestinya dapat menjadi salah satu pendorong bagi perusahaan untuk memanfaatkan AI demi meningkatkan efisiensi.

Namun, perusahaan Jepang cenderung tidak terburu-buru mengadopsinya, terutama untuk pekerjaan yang berkaitan langsung dengan operasional utama maupun pengambilan keputusan.

Disitat dari BBC, salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah budaya perusahaan Jepang yang cenderung mengutamakan kehati-hatian, proses, serta pengambilan keputusan berdasarkan konsensus.

Dalam sejumlah organisasi, proses dan budaya membangun kesepakatan dinilai dapat memperlambat penerapan teknologi baru. Kondisi ini semakin terlihat ketika perusahaan harus mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul dari penggunaan AI.

"Ada organisasi yang proses kerja dan budaya konsensusnya memang benar-benar memperlambat berbagai hal," demikian salah satu pandangan yang dikutip dalam laporan tersebut.

Kekhawatiran terhadap kesalahan AI juga menjadi persoalan penting, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk pekerjaan yang berhadapan langsung dengan pelanggan.

Toleransi terhadap kesalahan AI dalam situasi tersebut, disebut nyaris tidak ada, sehingga sebagian pihak lebih memilih mempertahankan peran manusia dibandingkan menyerahkan pekerjaan sepenuhnya kepada mesin.

Penggunaan AI di Jepang

Penggunaan AI generatif di Jepang pun masih lebih banyak diarahkan untuk pekerjaan dengan risiko relatif rendah. Teknologi ini antara lain dimanfaatkan untuk membantu menulis, membuat rangkuman, hingga mencari dan mengumpulkan informasi.

Sebaliknya, pemanfaatannya untuk operasional inti perusahaan, pengambilan keputusan, maupun peningkatan proses bisnis secara menyeluruh masih jauh lebih terbatas.

Meski demikian, lambatnya adopsi AI tidak serta-merta berarti perusahaan Jepang sepenuhnya mengabaikan teknologi tersebut. Sejumlah perusahaan tetap mulai bereksperimen dan membangun kemampuan AI, tetapi pendekatan yang diambil cenderung lebih hati-hati.

Ketika teknologi tersebut belum sepenuhnya dapat diandalkan, perusahaan memilih memastikan manfaat dan risikonya terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke bagian penting dalam bisnis.

Pada akhirnya, kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan dalam memandang AI di dunia kerja. Ketika sejumlah negara dan perusahaan berlomba mengintegrasikan AI ke berbagai aktivitas bisnis, perusahaan Jepang tampaknya lebih memilih langkah bertahap.

Sikap hati-hati tersebut menjadi salah satu alasan mengapa adopsi AI di lingkungan perusahaan Jepang masih berjalan lebih lambat dibandingkan Amerika Serikat dan Inggris.