Be My Eyes Raih Cultural Impact App Store Awards 2025, Bongkar Peran AI dan Relawan bagi Jutaan Tunanetra di 160 Negara

CEO Be My Eyes, Mike Buckley, menjelaskan bagaimana aplikasi pemenang Cultural Impact Award ini memadukan teknologi dan relawan manusia untuk membantu jutaan penyandang low vision di seluruh dunia.

Diterbitkan 07 Desember 2025, 06:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Apple mengumumkan daftar pemenang penghargaan App Store Awards 2025 mereka, di mana tahun ini aplikasi Be My Eyes mencuri perhatian para kurator App Store.

Raih penghargaan di kategori Cultural Impact App Store Awards 2025, Be My Eyes dinilai membawa dampak besar bagi lebih dari 340 juta orang tunanetra dan low vision di dunia.

CEO Be My Eyes, Mike Buckley, menjelaskan bagaimana perjalanan aplikasi ini, integrasi AI, hingga alasan kenapa interaksi manusia tetap menjadi pusat layanan mereka.

"Kami bangun setiap hari dengan satu pertanyaan. Bagaimana caranya membantu komunitas tunanetra hidup lebih mandiri?", ucap Mike dalam sesi wawancara virtual baru-baru ini. 

Ia menegaskan, jumlah penyandang low vision terus meningkat karena populasi menua serta tingginya kasus degenerasi mukala dan diabetes. Diawali dari ide sederhana Hans- Jorgen Weiberg, Be My Eyes pun akhirnya tercipta.

Hans sendiri adalah pengrajin furnitur asal Denmark kehilangan penglihatannya, dan sering mengalami kesulitan saat tidak ada keluarga yang bisa membantunya. "Dari situlah ia menciptakan aplikasi yang memungkinkan pengguna menekan satu tombol untuk terhubung dengan relawan yang bisa melihat melalui kamera ponsel mereka," papar Mike.

"Entah itu membaca tanggal kedaluwarsa susu, mencari gerbang bandara, memilah cucian, semua bantuan datang dari relawan yang berbahasa pengguna dan selalu terjaga berkat sistem zonasi," ucapnya.

Be My Eyes pun mengalami pertumbuhan pesat, dengan hampir 1 juta pengguna tunanetra aktif menggunakan aplikasi ini dan dilayani oleh 9,2 juta relawan di lebih dari 160 negara.

"Panggilannya rata-rata berlangsung tiga menit, dengan 90 persen berhasil. Kombinasi teknologi dan kebaikan manusia selalu bekerja," katanya.

 

Be MY Eyes Adopsi AI

Be My Eyes memungkinkan tunanetra melakukan video chat melalui iPad dan iPhone mereka.

Saat kecerdasan buatan (AI) booming di 2022, Be My Eyes melihat potensi teknologi ini untuk meningkatkan kemampuan aplikasi. "Hanya perlu 14 percobaan telepon ke OpenAI, akhirnya saya tersambung. Kemitraan pun terjadi dengan hadirnya fitur Be My AI, visual interpreter berbasis GPT-4."

Ia menambahkan, "kini ada dua tombol di aplikasi. Pengguna bisa memilih berbicara dengan relawan atau minta bantuan AI. Jika jawaban AI dirasa kurang jelas, mereka bisa langsung pindah ke relawan manusia. Hingga kini, 4 juta sesi Be My AI terjadi setiap bulannya."

Saat ditanya bagaimana cara perusahaan mendapatkan keuntungan dari aplikasi gratis ini, Mike menegaskan alasan dibalik keputusan tersebut. "Tujuh puluh persen penyandang low vision tidak bekerja atau kurang diberdayakan. Kami tidak ingin memberi hambatan finansial. Misi kami tidak cocok dengan model berbayar," ujarnya.

Untuk biaya operasional, Be My Eyes menawarkan teknologi buatannya ke perusahaan seperti Microsoft, Sony, Emirates, dan Google. Saat pelanggan tunanetra memilih tombol Microsoft, mereka langsung terhubung dengan agen layanan yang bisa melihat melalui kamera ponsel pengguna.

Lalu bagaimana dengan isu privasi, Mike secara tegas mengatakan aplikasi tidak menyimpan gambar apa pun. Data diproses AI juga tidak disimpan oleh OpenAI.

Keseimbangan AI dengan Manusia

Aplikasi bantuan pengelihatan untuk orang tunanetra (foto: Google Store)

Saat ditanya tentang keseimbangan antara AI dan relawan manusia, Mike ternyata mengungkap jawaban yang mengejutkan. "Saya khawatir tentang masa depan koneksi manusia di era AI," ucapnya.

Ia menambahkan, "Tapi tugas kami memberi pilihan kepada pengguna. Banyak tetap ingin berbicara dengan relawan karena itu memberikan kenyamanan emosional."