Sukses

Apple Watch Bisa Deteksi Gejala Long Covid

Liputan6.com, Jakarta - Menurut sebuah studi baru yang dilaporkan New York Times, ditemukan bahwa perangkat seperti Apple Watch, Fitbit, dan lainnya dapat digunakan untuk mendeteksi efek Covid-19 jangka panjang atau gejala long Covid.

Mengutip Ubergizmo, Jumat (9/7/2021), penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open ini dilakukan dari 25 Maret 2020 hingga 24 Januari 2021 oleh para peneliti di Scripps Research Translational Institute, California, Amerika Serikat.

Penelitian ini bukan tentang mendeteksi penyakit di dalamnya, melainkan untuk mencari tahu seperti apa efek jangka panjang yang mungkin tidak dialami oleh dokter.

Berdasarkan riset, para peneliti menemukan bahwa mereka yang terinfeksi detak jantungnya menurun pada awalnya, tetapi kemudian naik ke tingkat yang lebih tinggi, di mana dibutuhkan sekitar 79 hari sebelum kembali ke tingkat istirahat normal.

Menurut Dr. Jennifer Radin, seorang ahli epidemiologi di Scripps, pihaknya ingin melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mengumpulkan gejala long Covid sehingga dapat membandingkan perubahan fisiologis yang dilihat dengan gejala yang sebenarnya dialami peserta.

"Jadi, ini benar-benar studi pendahuluan yang membuka banyak studi lain di masa mendatang," klaim Radin.

2 dari 6 halaman

Bisa Deteksi Covod-19 Sebelum Tes Swab

Sebelumnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan, perangkat seperti Apple Watch sebenarnya dapat mendeteksi Covid-19 pada pengguna sebelum tes swab dilakukan.

Meskipun mungkin tidak akan menggantikan tes RTK/PCR, Apple Watch diklaim bermanfaat karena pengobatan dan isolasi dapat dimulai lebih awal untuk mencegah penyebaran.

3 dari 6 halaman

Gejala Long Covid dan Manfaat Vaksin Bila Terpapar COVID-19

Long Covid merupakan gejala sisa yang masih dirasakan oleh pasien COVID-19 sekalipun sudah dinyatakan negatif. Gejalanya beragam dan bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Gejala Long Covid perlu diwaspadai.

Bedasarkan penelitian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, setelah empat pekan sejak mulai merasakan gejala COVID-19 sampai dinyatakan negatif, gejala sisa masih timbul. Gejala Long Covid bisa diatasi secara medis.

dr. Yahya Sp.P, Kombespol & dokter spesialis paru, Kabag Pembinaan Fungsi RS Bhayangkara R. Said Sukanto, memaparkan 53,7 persen pasien merasakan gejala Long Covid selama satu bulan, 43,6 persen selama 1-6 bulan, dan 2,7 persen lebih dari 6 bulan.

“Gejala Long Covid dimulai dari pelemahan fisik secara umum, sesak napas, nyeri sendi, nyeri otot, batuk, diare, kehilangan penciuman, dan pengecapan,” terangnya dalam Dialog Produktif bertema Long Covid, Kenali dan Waspadai yang adakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (3/6).

4 dari 6 halaman

Laki-Laki Paling Berisiko Terkena Long Covid

“Kemudian secara demografi, pasien laki-laki juga lebih besar peluangnya terkena efek Long Covid. Salah satu alasannya karena gaya hidup merokok. Biasanya juga pasien COVID-19 yang bergejala berat atau mungkin yang berhasil sembuh setelah dibantu ventilator memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita Long Covid ini,” terangnya.

dr. Yahya menekankan salah satu faktor penting dari gejala Long Covid dipicu juga oleh kondisi psikologis pasien. “Memang ada kelemahan seseorang gampang cemas, gampang Depresi, ini juga faktor yang membuat seseorang Long Covid,” terangnya.

Pada saat perawatan maupun saat isolasi mandiri, apabila pasien merasakan gejala-gejala Long Covid setelah dinyatakan sembuh, diharapkan pasien terus berkonsultasi kepada dokter.

Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana menjelaskan lebih lanjut, mengapa ini bisa terjadi dalam tubuh pasien, “Semua jaringan tubuh manusia bisa terinfeksi virus COVID-19 ini. Jadi Long Covid ini membuat pasien berisiko kerusakan jaringan tubuh dalam jangka panjang hingga menyebabkan gangguan respon imun dan gangguan saraf. Karena itu mohon jangan lagi menganggap remeh penyakit COVID-19 ini."

5 dari 6 halaman

Gejala Lain dan Cara Memulihkan Efek Long Covid

Cahyandaru Kuncorojati penyintas COVID-19 menceritakan bahwa selain mengganggu kesehatan fisik, COVID-19 ini benar-benar menyerang secara psikologis seperti yang diterangkan dr. Yahya, “Waktu saya dirawat bersama istri dan dua anak saya yang masih kecil, saya memikirkan anak saya. Saya bertekad untuk segera sembuh agar anak saya yang masih usia dua tahun dan satu lagi tujuh bulan bisa segera saya pantau juga kesembuhannya,” tegasnya.

Setelah dinyatakan negatif, gejala Long Covid berupa kehilangan penciuman dan pengecapan juga dialami Cahyandaru selama kurang lebih satu bulan.

“Berangsur-angsur mulai kembali tapi sampai sekarang indra penciuman saya tidak setajam dulu lagi,” kisahnya.

“Untuk pasien yang kehilangan kemampuan penciuman dan pengecapan memang perlu dibangkitkan lagi sensitivitasnya seperti mencium bau-bau yang sangat menyengat seperti minyak kayu putih dan parfum yang sangat harum. Ini perlu dilatih setiap hari agar pulih secepatnya,” saran dr. Yahya.

6 dari 6 halaman

Manfaat Vaksin

Masyarakat juga perlu diingatkan bahwa meskipun sudah divaksinasi, peluang tertular COVID-19 masih ada.

“Vaksin ini utamanya adalah untuk menurunkan gejala berat dan risiko kematian akibat terjangkit COVID-19. Artinya semua yang sudah divaksinasi masih berisiko terinfeksi, hanya saja jumlah virus yang menginfeksi jauh lebih sedikit daripada orang yang belum divaksinasi,” terang Prof. Mahardika

dr. Yahya juga menambahkan, “Di lapangan kita menemukan pasien yang sudah divaksinasi dosis lengkap bisa tertular COVID-19, tapi dengan gejala yang sangat ringan dan masa rawatnya juga singkat, itulah kelebihannya kalau divaksinasi lengkap,” tuturnya. “Memang betul masyarakat harus terus menjaga protokol kesehatan karena saya juga sudah mendapat vaksin COVID-19 dosis pertama pun bisa tertular COVID-19. Tapi setidaknya kita bisa terhindar dari sakit berat dari COVID-19 apabila sudah terlindungi vaksin,” tutup Cahyandaru.