Terobosan Implan Otak Berbasis AI Pulihkan Gerak dan Sensasi pada Pasien Lumpuh

Seorang pria yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan pada 2020, kini mampu makan dan minum sendiri setelah menjalani operasi implan otak berbasis AI.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria bernama Keith Thomas, yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat menyelam pada 2020, kini mampu makan dan minum sendiri setelah menjalani operasi implan otak yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI).

Disitat dari Popsci, Senin (20/7/2026), Thomas menjadi pasien dalam uji klinis yang dikembangkan Feinstein Institutes for Medical Research di New York, Amerika Serikat (AS).

Teknologi tersebut bekerja dengan menghubungkan kembali sinyal dari otak ke bagian sumsum tulang belakang yang masih sehat, sehingga membantu memulihkan fungsi gerak dan sensasi pada lengan serta tangan.

Sejak mengikuti penelitian tersebut, kemampuan motorik dan indra perabanya terus menunjukkan peningkatan.

Terobosan ini sebenarnya pertama kali menarik perhatian dunia pada 2023. Saat itu, tim dokter berhasil melakukan operasi otak terbuka selama 15 jam, untuk menjalankan prosedur double neural bypass, diklaim sebagai yang pertama di dunia.

Prosedur tersebut memasang sekaligus memetakan sistem BCI pada otak Thomas. Beberapa bulan setelah operasi, ia mulai kembali merasakan sentuhan dan memperoleh kekuatan di lengan serta pergelangan tangannya.

"Ada masa ketika saya tidak tahu apakah saya akan tetap hidup, atau bahkan, sejujurnya, apakah saya ingin terus hidup. Sekarang, saya bisa merasakan sentuhan seseorang yang menggenggam tangan saya. Rasanya sungguh luar biasa," kata Keith Thomas, empat bulan setelah menjalani operasi pertamanya.

Setelah hampir tiga tahun, hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan. Berkat kombinasi teknologi BCI dan AI, Thomas kini dapat menggenggam benda, mengangkat gelas, hingga minum secara mandiri menggunakan tangan yang sebelumnya lumpuh.

Dirinya juga mengalami peningkatan kekuatan lengan dan kemampuan merasakan sentuhan di pergelangan tangan.

Sistem Implan Otak dan AI

Sistem tersebut mengandalkan lima susunan mikroelektroda yang ditanamkan melalui operasi di otak Thomas. Algoritma machine learning kemudian menerjemahkan sinyal otak yang berkaitan dengan gerakan dengan tingkat akurasi mendekati 85 persen.

Sinyal tersebut selanjutnya diubah menjadi rangsangan listrik yang mengaktifkan otot-otot lengan bawah sesuai gerakan yang diinginkan.

Di sisi lain, sensor pada penyangga lengan hasil cetak 3D mengukur tekanan genggaman dan mengirimkan rangsangan listrik ke korteks sensorik sehingga pengguna dapat kembali merasakan sentuhan.

Hasilnya cukup mengesankan. Thomas mampu mengambil dan mengangkat cangkang telur kosong tanpa memecahkannya, hampir 90 persen dari percobaan.

Bahkan, ia tetap bisa melakukan tugas-tugas yang membutuhkan presisi tinggi tersebut sambil berbicara, sebuah peningkatan dibandingkan sistem BCI generasi sebelumnya yang umumnya mengalami penurunan performa saat pengguna menjalankan lebih dari satu aktivitas secara bersamaan.