Sukses

Belum Genap Setahun, Pengapalan Smartphone Huawei Tembus 200 Juta Unit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah masalah yang menekan Huawei setahun terakhir, tak membuat perusahaan kehilangan kabar baik. Selama hampir 10 bulan terakhir ini, pengapalan smartphone Huawei berhasil melampaui pencapaiannya dari tahun lalu.

Dilansir GSM Arena, Jumat (24/10/2019), Huawei mengumumkan pencapaiannya tersebut melalui akun Twitter miliknya pada 23 Oktober 2019. Perusahaan pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada para konsumennya.

"Kami baru saja melampaui 200 juta pengapalan pada 2019. 64 hari lebih cepat daripada tahun lalu! Kami terus berupaya meningkatkan teknologi untuk semuanya," tulis akun Huawei Mobile.

Huawei sebelumnya telah mengungkapkan kesuksesan sejumlah produknya di pasar. Lini P30 yang diumumkan pada Maret 2019, dan seri Mate 20 yang debut pada akhir tahun lalu, berhasil melampaui pendahulunya.

Kuatnya posisi Huawei di pasar Tiongkok diprediksi juga menjadi faktor pendukung pengapalan 200 juta unit smartphone. Hal ini didorong sikap patriotik masyarakat setempat sebagai bentuk dukungan terhadap Huawei yang sedang menghadapi masa sulit.

Seperti diketahui, Huawei tersangkut dalam negosiasi sengit perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Masalah ini membuat Huawei tidak bisa leluasa berbisnis dengan perusahaan-perusahan AS, termasuk dilarang menggunakan OS Android dan aplikasi-aplikasi buatan Google.

Masalah tersebut menghambat bisnis Huawei. Perusahaan pun bersiap untuk penurunan pendapatan tahunan sebesar 10 persen dari grup bisnis konsumennya.

2 dari 2 halaman

Huawei dan Perusahaan AS Bicara soal Lisensi Teknologi 5G

Lebih lanjut, Huawei saat ini sedang berdiskusi dengan beberapa perusahaan telekomunikasi AS terkait lisensi teknologi jaringan 5G miliknya. Hal ini disampaikan oleh Senior Vice President Huawei, Vincent Pang, beberapa waktu lalu.

Dilansir dari Reuters, Pang mengatakan, beberapa perusahaan memperlihatkan ketertarikan untuk perjanjian jangka panjang atau sekali kerja sama (one-off transfer). Namun, ia menolak menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut.

"Ada beberapa perusahaan yang berbicara dengan kami, tetapi akan memakan waktu panjang untuk benar-benar menyelesaikannya. Mereka memperlihatkan ketertarikan," ungkap Pang.

Kerja sama Huawei dengan perusahaan-perusahaan AS tidak akan berjalan dengan mulus. Pasalnya, pemerintah AS mengkhawatirkan peralatan Huawei digunakan untuk memata-matai konsumen.

AS juga meyakinkan para sekutunya agar tidak menggunakan teknologi jaringan 5G Huawei. Huawei berulang kali membantah klaim tersebut.

Pemerintah AS pada Mei lalu menempatkan Huawei dalam daftar hitam perdagangan. Kebijakan tersebut melarang Huawei membeli produk-produk buatan perusahaan AS.

(Din/Isk)

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengapalan Smartphone Huawei Tembus 240 Juta Unit 2019
Artikel Selanjutnya
Huawei P40 Pro Bakal Punya Kamera 52MP