Sukses

Virtual Reality Ternyata Bisa Diterapkan di Sektor Real Estate

Liputan6.com, Yogyakarta - Virtual reality merupakan salah satu teknologi terkini yang tengah naik daun. Ketika kita mendengar kata virtual reality, boleh jadi yang terlintas di benak kita adalah gim (game).

Namun ternyata, penerapan virtual reality jauh lebih luas dari yang kita kira. Hal itu diungkapkan oleh General Manager Jogja Digital Valley Samuel Henry, di kantor Jogja Digital Valley, Selasa (17/5/2016).

Pria yang pernah menjadi mentor di program inkubasi milik Telkom ini memaparkan, kehadiran virtual reality juga dapat 'mengganggu' pelaku industri atau bisnis yang sudah ada. Dalam dunia startup, hal ini dikenal dengan istilah 'disruptive'.

"Ketika virtual reality dibawa oleh startup ke sebuah industri, pariwisata misalnya, pemain di industri ini akan 'terganggu' oleh startup tersebut," tutur Samuel.

Ia mencontohkan, candi-candi di Yogyakarta bisa dibuat menjadi aplikasi virtual reality. Dengan demikian, secara spesifik, yang 'terganggu' di sini adalah percetakan yang memproduksi brosur-brosur berisi penjelasan tentang candi-candi tersebut, dan si pemandu wisata tidak lagi harus menjelaskan gambaran candi-candi untuk mengajak para turis berkunjung ke sana.

Industri lainnya yang bisa memanfaatkan adalah industri real estate. Untuk mendemonstrasikan real estate besutannya, pengembang hanya perlu membuat konten berbasis virtual reality.

Untuk diketahui, di Amerika Serikat hal ini sudah menjadi strategi pemasaran. Pengembang real estate mengunggah konten tersebut secara cuma-cuma di situs jejaring sosial atau website mereka, lalu (calon) pembeli dapat melihat konten tersebut dengan smartphone dan perangkat mereka yang mendukung virtual reality.

"Bukan cuma itu, di bidang pendidikan juga bisa kok. Misalnya untuk materi pelajaran anatomi tubuh. Itu bisa menggunakan virtual reality," tutur Samuel.

(Why/Isk)