Pelatihan Vokasi Jadi Kunci Tingkatkan Kompetensi SDM

Kementerian Ketenagakerjaan memiliki dua agenda besar, yakni upskilling dan reskilling sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 04:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu agenda penting Presiden Prabowo Subianto. Tenaga kerja yang kompeten menjadi kunci daya saing sehingga program upskilling dan reskilling melalui pelatihan vokasi memainkan peran penting.

Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli mengatakan peningkatan kompetensi menjadi program prioritas Presiden Prabowo. Untuk itu, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki dua agenda besar, yakni upskilling dan reskilling sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

"Pengembangan kompetensi dilakukan melalui pelatihan vokasi nasional dan pemagangan nasional. Selain itu, kita masih punya PR (pekerjaan rumah) bagaimana membangun hubungan industrial. Ada praktik yang bisa kita lihat di PT HM Sampoerna, yakni bagaimana membangun hubungan industrial yang harmonis hingga menjadi hubungan industrial yang transformatif," ujarnya pada acara Sinergi Pilar Bangsa: Praktik Baik Hubungan Industrial Pancasila di Surabaya, Selasa (30/6).

Kegiatan Sinergi Pilar Bangsa menjadi wadah pembelajaran bersama untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam hubungan industrial, sekaligus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program upskilling dan reskilling bagi para pencari kerja.

Yassierli menegaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus berjalan seiring dengan penguatan hubungan industrial agar mampu menciptakan dunia usaha yang tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Semangatnya adalah membangun daya tahan industri melalui kolaborasi lintas sektor. Saya berharap kegiatan ini menjadi model untuk memperkuat sinergi tiga pilar, yakni pemerintah, dunia usaha, dan pekerja, serta menginspirasi perusahaan lain dalam menerapkan praktik baik Hubungan Industrial Pancasila," katanya.

 

Nilai-Nilai Pancasila

Pada kesempatan yang sama, Direktur Sampoerna Rianto mengatakan nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah, menjadi landasan dalam membangun hubungan kerja yang sehat sekaligus membentuk hubungan industrial yang berkelanjutan.

Nilai-nilai Pancasila tersebut selaras dengan Falsafah Tiga Tangan Sampoerna yang menekankan keseimbangan kerja sama dan kontribusi antara tiga pihak, yakni konsumen dewasa, karyawan, serta mitra usaha dan masyarakat, demi mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.

Untuk ikut berkontribusi dalam peningkatan kualitas SDM, khususnya melalui program upskilling dan reskilling, Rianto mengatakan Sampoerna menghadirkan inisiatif Sampoerna Karya Bangsa (SKB) pada 2025. SKB merupakan ekosistem kolaboratif yang mendukung kewirausahaan, vokasi, pelatihan, dan pengembangan keterampilan kerja.

Rianto berharap, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-113 Sampoerna, SKB dapat memberikan manfaat yang lebih inklusif serta memperkuat daya saing tenaga kerja yang selaras dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Kami percaya bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pekerja merupakan kunci dalam memperkuat hubungan industrial nasional," imbuhnya.