Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tayang dalam Format IMAX, Simak 3 Faktanya

Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, akan dirilis di bioskop Tanah Air pada 8 Oktober 2026 mendatang.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 01:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Andi Boediman, produser eksekutif film ini, juga memberi sedikit petunjuk tentang cerita Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. "Kami tidak membuat film tentang ketakutan. Kami membuat film tentang sesuatu yang lebih berat dari ketakutan, pilihan yang dibuat oleh satu generasi, dan yang harus dibayar oleh generasi berikutnya," tuturnya.

2. Pengalaman Pertama Rizal Mantovani

Sepanjang kariernya, Rizal Mantovani telah menyutradarai puluhan fil, tapi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dipastikan mendapat tempat istimewa baginya. Pasalnya, ini adalah kali pertama karyanya tayang dalam format IMAX. 

"Saya juga bangga, setelah berkarier selama puluhan tahun, akhirnya untuk pertama kalinya film saya tayang dalam format IMAX,” ujar Rizal Mantovani.

Ia juga mengungkap cerita seperti yang bakal disampaikan dalam film ini. 

“Lewat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, kami ingin membuat cerita yang dekat dengan keseharian, terutama dengan kondisi di Indonesia, dan semoga juga terasa relatable bagi penonton di seluruh dunia nanti. Cerita yang menyentuh seperti inilah yang akan membekas, dikenang dan menjadi pengalaman sinematik yang sangat menyenangkan," kata dia. 

3. Pengalaman Eksorsisme dalam Format IMAX

Teknologi IMAX menghadirkan sensasi menonton yang berbeda. Mulai dari layar yang lebih besar sampai memenuhi ruang pandang, hingga tata suaranya yang datang dari segala arah. Alhasil, pihak sineas hingga pemain meyakinkan bahwa teror hingga pergulatan dalam eksorsisme akan terasa imersif. Alias, penonton dibawa ikut terseret dan terkungkung dalam gejolak yang muncul di layar. 

 

Hal ini juga diungkap Lukman Sardi yang mengatakan, "Dengan pengalaman menonton di layar yang lebih besar dalam format IMAX, perjalanan eksorsisme yang akan dilihat penonton akan semakin imersif dan emosional,” ujar Lukman Sardi.

Ia juga menceritakan dinamika karakternya dalam sekuel yang naskahnya ditulis Robert Ronny dan Andri Cahyadi ini.

“Di film kedua ini, saya menggali lebih dalam sisi manusiawi yang ada di dalam karakter Romo Rendra. Bagaimana saat manusia berhadapan dengan iblis purba, yang dinamakan Rephaim," kata Lukman. 

Jerome Kurnia menambahkan, “Ketika Romo Rendra mulai goyah, Romo Thomas justru harus berdiri paling teguh. Tapi keyakinan yang terlalu besar pada diri sendiri bisa menjadi batu sandungannya."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan