Liputan6.com, Jakarta - Mengajarkan uang pada anak sejak dini menjadi salah satu bekal penting agar mereka terbiasa memahami nilai uang dan menggunakannya dengan bijak. Anak tidak harus langsung diajari tentang hal-hal rumit seperti investasi atau perencanaan keuangan. Kebiasaan sederhana, seperti mengatur uang jajan, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga belajar menunggu sebelum membeli sesuatu, sudah bisa menjadi langkah awal pendidikan finansial di rumah.
Orang tua dapat mengenalkan konsep uang melalui aktivitas sehari-hari yang dekat dengan kehidupan anak. Dengan cara yang sesuai usia dan dilakukan secara konsisten, anak perlahan dapat memahami bahwa uang memiliki nilai dan perlu digunakan sesuai kebutuhan. Kebiasaan ini juga dapat membantu anak belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuatnya.
Lantas bagaimana cara mengajarkan uang pada anak sejak dini agar tidak boros dan lebih bertanggung jawab? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (23/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Kenalkan Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301853/original/043044200_1784522759-anak_menabung.jpeg)
Salah satu langkah awal dalam mengajarkan uang pada anak adalah mengenalkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Anak dapat diberi contoh dari hal-hal yang mereka temui sehari-hari. Misalnya, makanan, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan kesehatan termasuk sesuatu yang perlu dipenuhi, sedangkan membeli mainan baru padahal sudah memiliki banyak mainan merupakan contoh keinginan. Penjelasan sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa tidak semua barang yang menarik harus langsung dibeli.
Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi ketika sedang berbelanja. Ketika anak meminta suatu barang, jangan langsung sekadar mengatakan boleh atau tidak boleh, tetapi tanyakan mengapa barang tersebut diinginkan dan apakah barang itu memang diperlukan. Pertanyaan sederhana seperti, “Kalau tidak membeli ini hari ini, apakah ada masalah?” dapat membantu anak belajar mempertimbangkan prioritas. Dengan begitu, anak mulai memahami bahwa menggunakan uang sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, bukan hanya dorongan sesaat.
Kebiasaan membedakan kebutuhan dan keinginan juga dapat mengurangi kecenderungan anak meminta berbagai barang setiap kali melihat sesuatu yang menarik. Anak belajar bahwa ada kalanya keinginan perlu ditunda atau bahkan tidak perlu diwujudkan. Proses ini tentu membutuhkan kesabaran karena kemampuan anak dalam mengendalikan keinginan berkembang secara bertahap. Yang terpenting, orang tua memberikan contoh dan mengajarkan konsep tersebut secara konsisten tanpa membuat anak merasa takut terhadap uang.
Advertisement
2. Berikan Uang Jajan dengan Jumlah yang Terukur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312281/original/006561700_1785485682-IMG_2314.jpeg)
Memberikan uang jajan dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola uang secara langsung. Daripada selalu membelikan semua kebutuhan kecil anak, orang tua bisa memberikan sejumlah uang yang sesuai dengan usia dan kondisi keluarga. Anak kemudian belajar menentukan bagaimana uang tersebut digunakan untuk kebutuhan di sekolah atau disimpan. Jumlahnya tidak harus besar karena tujuan utamanya adalah mengenalkan tanggung jawab, bukan membuat anak memiliki banyak uang.
Orang tua juga dapat membuat aturan sederhana mengenai uang jajan. Misalnya, anak diberi uang untuk satu hari atau beberapa hari dan diajak membuat rencana penggunaannya. Jika uang habis lebih cepat karena membeli sesuatu yang tidak diperlukan, anak dapat diajak mengevaluasi apa yang terjadi. Sebaliknya, ketika anak berhasil menyisihkan sebagian uang, orang tua dapat memberikan apresiasi atas kebiasaan tersebut tanpa menjadikan uang sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Hal penting lainnya adalah menghindari kebiasaan terus-menerus memberikan uang tambahan ketika uang jajan anak habis karena digunakan secara sembarangan. Jika setiap kekurangan langsung ditutupi, anak bisa kesulitan memahami konsekuensi dari pilihannya. Orang tua tetap dapat membantu ketika memang ada kebutuhan penting, tetapi anak perlu diberi kesempatan untuk belajar dari keputusan finansial sederhana yang sesuai dengan usianya.
3. Biasakan Anak Menabung untuk Tujuan Tertentu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312282/original/023965800_1785485685-IMG_2312.jpeg)
Menabung akan lebih mudah dipahami anak jika memiliki tujuan yang jelas. Orang tua dapat mengajak anak menentukan sesuatu yang ingin dibeli atau dicapai, misalnya buku cerita, perlengkapan menggambar, mainan tertentu, atau kegiatan yang memang sudah disepakati. Setelah menentukan tujuan, anak dapat menghitung secara sederhana berapa uang yang perlu dikumpulkan dan berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan. Cara ini membuat kegiatan menabung terasa lebih nyata daripada sekadar menyimpan uang tanpa mengetahui manfaatnya.
Untuk anak yang masih kecil, celengan transparan dapat menjadi pilihan karena mereka bisa melihat perkembangan tabungannya. Orang tua juga dapat membuat tabel sederhana yang menunjukkan jumlah uang yang sudah terkumpul. Setiap kali anak menyisihkan uang, jumlah tersebut dapat dicatat bersama. Aktivitas seperti ini sekaligus mengenalkan konsep bahwa sejumlah kecil uang yang dikumpulkan secara rutin dapat menjadi jumlah yang lebih besar.
Ketika target sudah tercapai, orang tua dapat mengajak anak mengevaluasi prosesnya. Tanyakan bagaimana rasanya menunggu, apakah ada keinginan yang harus ditunda, dan apakah tujuan tersebut terasa lebih berarti karena diperoleh melalui proses menabung. Anak tidak harus selalu menggunakan seluruh tabungannya untuk membeli barang. Dari sini, orang tua dapat mulai mengenalkan bahwa menabung juga bisa dilakukan untuk tujuan jangka lebih panjang dan sebagai persiapan ketika membutuhkan sesuatu di kemudian hari.
Advertisement
4. Libatkan Anak dalam Permainan yang Berkaitan dengan Uang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4445544/original/006659900_1685354565-ann-danilina-c_rnPbSYVFM-unsplash-min.jpg)
Belajar tentang uang tidak harus selalu dilakukan melalui nasihat atau penjelasan formal. Anak dapat memahami konsep keuangan melalui permainan yang sesuai dengan usianya. Misalnya, orang tua dapat bermain toko-tokoan menggunakan uang mainan, mengajak anak berpura-pura menjadi pembeli dan penjual, atau membuat permainan sederhana untuk memilih barang berdasarkan uang yang tersedia. Dari aktivitas tersebut, anak dapat mengenal konsep harga, membayar, menerima kembalian, serta menentukan pilihan berdasarkan jumlah uang yang dimiliki.
Untuk anak yang lebih besar, permainan dapat dibuat sedikit lebih kompleks. Orang tua bisa memberikan sejumlah uang mainan dan beberapa pilihan barang dengan harga berbeda. Anak kemudian diminta menentukan barang mana yang ingin dibeli tanpa melebihi anggaran. Permainan ini secara tidak langsung melatih kemampuan membuat keputusan dan memahami bahwa memilih satu barang mungkin berarti harus mengorbankan kesempatan membeli barang lainnya.
Permainan juga membuat pembelajaran tentang uang terasa lebih ringan dan tidak menakutkan. Ketika anak melakukan kesalahan dalam permainan, orang tua dapat menjadikannya bahan diskusi, bukan langsung menyalahkan. Misalnya, jika uang habis karena membeli terlalu banyak barang, tanyakan apa yang bisa dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Dengan pendekatan seperti ini, anak belajar bahwa mengatur uang membutuhkan perencanaan dan pertimbangan.
5. Ajarkan Anak Membuat Prioritas Sebelum Membeli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292921/original/034620300_1783664297-IMG_1937.jpeg)
Anak perlu memahami bahwa memiliki uang bukan berarti harus segera menghabiskannya. Untuk mengenalkan konsep ini, orang tua dapat mengajak anak membuat daftar prioritas sebelum membeli sesuatu. Jika anak memiliki sejumlah uang, misalnya, tanyakan apakah uang tersebut akan digunakan untuk membeli barang yang memang dibutuhkan, ditabung, atau digunakan untuk sesuatu yang sudah direncanakan. Anak tidak harus selalu memilih menabung karena tujuan utamanya adalah belajar mempertimbangkan pilihan.
Kebiasaan membuat prioritas dapat dimulai dari situasi yang sederhana. Ketika pergi ke toko dan anak ingin membeli beberapa barang sekaligus, orang tua dapat memberikan batas anggaran tertentu. Anak kemudian diminta memilih mana yang paling diinginkan atau paling dibutuhkan. Jika harga barang melebihi uang yang tersedia, orang tua dapat mengajak anak mempertimbangkan apakah akan memilih barang lain, menunggu hingga memiliki cukup uang, atau menabung terlebih dahulu.
Proses ini membantu anak mengenali bahwa setiap keputusan menggunakan uang memiliki konsekuensi. Anak mungkin mendapatkan satu barang yang sangat diinginkan, tetapi harus menunda pembelian lainnya. Pengalaman sederhana tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami konsep prioritas ketika mereka semakin besar. Orang tua sebaiknya tetap memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan yang sesuai usianya agar pembelajaran tidak berubah menjadi sekadar aturan yang harus dipatuhi.
Advertisement
6. Berikan Contoh Cara Menggunakan Uang dengan Bijak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7681649/original/029332600_1780477227-pexels-karola-g-4968387.jpg)
Anak banyak belajar dari apa yang dilakukan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mengajarkan uang pada anak tidak cukup hanya melalui nasihat jika perilaku orang dewasa di sekitarnya menunjukkan kebiasaan yang berbeda. Orang tua dapat memberikan contoh sederhana, seperti membuat daftar belanja, membandingkan harga beberapa barang, menghindari pembelian impulsif, atau memilih menggunakan barang yang masih layak daripada selalu membeli yang baru.
Ketika berbelanja bersama anak, orang tua juga dapat menjelaskan alasan di balik keputusan tertentu. Misalnya, ketika memilih produk dengan harga yang berbeda, orang tua dapat menjelaskan bahwa pilihan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Penjelasan tidak perlu membahas kondisi keuangan keluarga secara detail. Anak cukup diperkenalkan pada gagasan bahwa setiap keluarga memiliki anggaran dan perlu membuat pilihan sesuai dengan kemampuan.
Contoh nyata seperti ini membuat konsep keuangan lebih mudah dipahami karena anak melihat penerapannya secara langsung. Jika orang tua terbiasa membicarakan keputusan belanja dengan tenang dan rasional, anak juga dapat belajar bahwa uang bukan sesuatu yang harus dihabiskan begitu saja. Sebaliknya, anak dapat memahami bahwa uang merupakan alat yang perlu digunakan sesuai tujuan dan prioritas.
7. Ajarkan Anak Bertanggung Jawab atas Pilihan Uangnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180274/original/076829500_1743749526-pexels-karolina-grabowska-4968395.jpg)
Bagian penting dari pendidikan keuangan adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk merasakan konsekuensi dari keputusan yang dibuatnya. Jika anak menggunakan seluruh uangnya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, orang tua tidak selalu perlu langsung mengganti uang tersebut. Dalam situasi yang aman dan sesuai usia, anak dapat diajak memahami bahwa uang yang sudah digunakan tidak lagi tersedia untuk pilihan lainnya.
Namun, memberikan tanggung jawab bukan berarti membiarkan anak menghadapi masalah finansial yang terlalu berat. Orang tua tetap perlu memberikan batasan dan pengawasan, terutama untuk anak yang masih kecil. Jika anak melakukan kesalahan, fokuskan pembicaraan pada proses belajar. Orang tua dapat bertanya apa yang membuat anak memilih barang tersebut, bagaimana perasaannya setelah uang habis, dan apa yang ingin dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya.
Seiring bertambahnya usia, tanggung jawab tersebut dapat diberikan secara bertahap. Anak bisa mulai belajar mencatat uang masuk dan keluar, menetapkan target tabungan, merencanakan penggunaan uang jajan, hingga mempertimbangkan harga sebelum membeli sesuatu. Dengan latihan yang konsisten, anak diharapkan tidak hanya mengetahui bahwa uang harus dihemat, tetapi juga memahami alasan di balik pengelolaan uang yang bijak. Tujuan akhirnya bukan membuat anak takut mengeluarkan uang, melainkan membantu mereka membuat keputusan yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Mengajarkan Uang pada Anak Sejak Dini
1. Kapan waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan uang pada anak?
Mengajarkan uang pada anak dapat dimulai sejak usia dini melalui konsep sederhana yang sesuai dengan kemampuan mereka. Misalnya, anak dapat dikenalkan dengan uang jajan, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta belajar memilih barang berdasarkan jumlah uang yang dimiliki.
2. Bagaimana cara mengajarkan anak agar tidak boros?
Orang tua dapat mengajarkan anak membuat prioritas sebelum membeli sesuatu, memberikan uang jajan dalam jumlah terukur, serta membiasakan anak menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Anak juga perlu diberi kesempatan memahami konsekuensi dari keputusan menggunakan uang.
3. Apakah anak perlu diberikan uang jajan sendiri?
Uang jajan dapat menjadi sarana latihan mengelola uang jika jumlahnya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Orang tua dapat memberikan aturan sederhana agar anak belajar menentukan prioritas, menggunakan uang sesuai kebutuhan, dan menyisihkan sebagian untuk ditabung.
4. Bagaimana cara mengenalkan konsep menabung kepada anak?
Orang tua dapat mengajak anak menentukan tujuan tabungan yang sederhana dan realistis. Misalnya, anak ingin membeli buku atau perlengkapan menggambar. Gunakan celengan atau tempat penyimpanan yang memungkinkan anak melihat perkembangan tabungannya sehingga proses menabung terasa lebih nyata.
5. Apa yang harus dilakukan jika uang anak habis karena membeli barang yang tidak diperlukan?Orang tua dapat menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan belajar. Alih-alih langsung memarahi atau mengganti uangnya, ajak anak membahas alasan pembelian dan apa yang bisa dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya. Dengan demikian, anak belajar memahami konsekuensi dari pilihannya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355619/original/023680000_1790138067-FALSE__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353576/original/002126400_1789969776-cek_fakta_-_papua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356083/original/074303800_1790152592-cek_fakta_-_alat_pertanian_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302078/original/068798600_1784532273-pexels-cottonbro-7118205.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339710/original/014822400_1757090479-SEPUR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353390/original/066519200_1789962692-01M2T6XPC1ECJ61CTFQXC63WJN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456968/original/059102500_1766982723-SnapInsta-Ai_3720053977506767582.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355818/original/038120300_1790142530-_____Jelajahi_Pesona_Banyuwangi___Jember_dengan_Kereta_Api_Pandanwangi______Nikmati_perjalanan_seru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355557/original/006534700_1790136150-c3b0acf7-675b-45db-93f3-957197138e68.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355828/original/058762800_1790142923-Gemini_Generated_Image_hkhqxjhkhqxjhkhq__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355666/original/001652400_1790139276-Tanaman_Pembawa_Energi_Positif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355504/original/073683000_1790134555-Screenshot_2026-09-23_103239.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5538165/original/033087200_1774504655-Gemini_Generated_Image_2f43dt2f43dt2f43.jpg)