Kenang 40 Tahun Kematian Bruce Lee, Pameran Digelar di Hong Kong

Pesona hidup Bruce Lee, filsafat dan segala warisan yang dilekatkan pada dirinya, terus hidup melintasi batasan usia dan kebangsaan.

OlehAnr
Diterbitkan 21 Juli 2013, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
r>
Bruce Lee lahir di San Francisco, AS, pada 1940, dan keluarganya memboyongnya ke Hong Kong ketika dia berusia beberapa bulan. Dalam perjalanannya, Bruce Lee dikenal sebagai aktor film yang berbakat dalam seni bela diri.

Namun demikian dia dianggap mengabaikan sekolahnya, dia dikirim kembali ke AS saat dia berusia 18 tahun. Selama di perguruan tinggi, Bruce Lee mengajarkan seni bela diri ala Cina. Dia kemudian menikahi salah seorang muridnya, Linda.

Bruce Lee kemudian memboyong keluarga kecilnya ke California, di mana dia akhirnya terlibat film serial TV, Green Hornet. Setelah kurang meraih kesuksesan di dunia film laga di Hollywood, Lee memutuskan kembali ke Hong Kong, sebuah keputusan yang kelak mengubah perjalanan hidupnya.

Di Hong Kong, Lee dipercaya tampil sebagai bintang utama film laga berjudul The Big Boss, yang kemudian film ini meledak di pasar Asia, dan mengorbitkan namanya. Dan, akibat aksi laga yang sering dipertunjukan di film-filmnya, banyak orang yang ingin mempelajari Jeet Kune Do.

Enter the Dragon merupakan hasil karyanya yang terakhir dan mungkin paling populer. Pada 20 Juli 1973, Sang Naga mengembuskan napasnya yang terakhir. Bruce Lee diduga meninggal setelah mengonsumsi Equagesic sebuah obat peredam rasa sakit untuk meredakan sakit kepala yang dialaminya. Tak disangka tubuhnya mengalami reaksi hipersensitif, membuat cairan di dalam otaknya membengkak dan akhirnya menyebabkan kematian Sang Naga.

Bruce Lee meninggal pada usia 32 tahun, usia yang masih sangat muda dan produktif. Jeet Kune Do dan film-film yang ia lakoni merupakan salah satu warisan abadi Sang Naga kepada dunia.(Ans)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anr, AnsTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan