Film Pesugihan Sate Gagak: Komedi Horor yang Menggigit, Menghibur, dan Menyentil Realita Hidup Masyarakat Masa Kini

Film ini memadukan horor dan komedi dengan pesan moral kuat tentang perjuangan hidup dan pilihan manusia.

Diterbitkan 06 November 2025, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Film Pesugihan Sate Gagak yang disutradarai Eti Cesar dan Dono Pradana, serta ditulis oleh Nugra Agung, tidak hanya hadir sebagai tontonan komedi horor. Film ini juga bisa menjadi cerminan isu-isu sosial yang banyak terjadi di zaman sekarang.

Cerita mengenai praktik pesugihan sering kali identik dengan nuansa horor yang mencekam dan kebutuhan tumbal manusia. Namun, di film ini, tema berat tersebut dikemas dengan balutan komedi horor super ringan yang justru menjadi obat penghilang stres bagi para penonton.

Selain itu, film ini juga menampilkan beragam aktor berbakat yang siap menghidupkan cerita penuh humor dan misteri ini. Tidak hanya menghibur, film ini juga mengajak penonton untuk merenungkan kembali tentang konsekuensi dari setiap pilihan hidup.

Pesugihan Sate Gagak siap menggelitik perut dan menyajikan sensasi tawa bercampur tegang saat tayang di bioskop mulai 13 November 2025.

Aksi Trio Gagak

Kekuatan utama film Pesugihan Sate Gagak terletak pada penampilan tiga komika ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kalinya, ketiganya dipercaya menjadi pemeran utama dalam satu film layar lebar.

Kolaborasi mereka menghadirkan energi komedi yang segar, spontan, dan terasa sangat alami di setiap adegan. Persahabatan yang terbangun di antara ketiganya di depan kamera pun tampak begitu cair, membuat cerita yang absurd justru terasa hangat dan hidup.

Terlebih lagi, adegan yang menuntut mereka berakting tanpa busana menjadi tantangan tersendiri yang memacu profesionalisme mereka.

“Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang, sepertinya cuma akan terjadi di film ini,” ujar Ardit Erwandha, pemeran Anto, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (10/6).

Ia mengakui pengalaman ini menjadi hal baru dalam kariernya. “Ini jadi tantangan sekaligus cara saya keluar dari zona nyaman. Buat kami bertiga, ini bentuk totalitas dan keseriusan sebagai aktor,” lanjutnya.

Sem

entara itu, Yono Bakrie menilai kesempatan menjadi pemeran utama adalah hal yang sangat berharga. Ia sebelumnya lebih dikenal lewat peran-peran kecil, baik sebagai cameo maupun pendukung. Namun kali ini, ia mendapat ruang lebih luas untuk menunjukkan kemampuannya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Nyari duit susah itu memang benar adanya. Sebelum merantau ke Jakarta, saya pernah mengalami berbagai kesulitan ekonomi dan harus membantu orang tua agar bisa bertahan hidup. Kedekatan saya dengan cerita ini sangat membantu saya dalam mendalami karakter Dimas,” katanya dengan nada penuh makna. Sementara bagi Benedictus Siregar, proyek ini terasa begitu istimewa karena memberinya kesempatan untuk menjelajahi sisi lain dari kemampuan beraktingnya. Biasanya ia dikenal lewat peran-peran komedi ringan, namun kali ini ia ditantang untuk menampilkan lapisan emosi yang lebih dalam. “Meskipun unsur komedinya cukup kuat dan saya juga banyak bertemu dengan para komika, di film ini ternyata saya harus menampilkan adegan drama sesuatu yang jarang saya lakukan sebelumnya. Itu yang membuat Pesugihan Sate Gagak jadi salah satu proyek yang paling spesial sepanjang karir berakting saya,” ungkap Beni dengan penuh semangat.

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan