Review Film Thunderbolts: Manusia, Ruang-ruang Aib, dan Upaya Berdamai dengan Gelapnya Masa Lalu

Hadirnya Thunderbolts menjawab pertanyaan: Apa yang bisa disajikan Marvel setelah Avengers: Endgame dan mangkatnya Iron-Man versi Robert Downey Jr.?

Diterbitkan 04 Mei 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mengingat, tiap orang berhak mendapat kesempatan tampil atau menunjukkan aura kebintangan. Ndilalah, para tokoh dalam film ini memanfaatkan kesempatan itu dengan maksimal. Yang paling bersinar terang adalah Florence Pugh sebgaai Yelena.

Ia “menangkap” esensi dan mempresentasikan sejumlah momen dengan apik dari pengakuan atas kesepian, rindu figur ayah, mencoba jadi teman baru padahal sendirinya masih meraba-raba bagamana teman sebenarnya. Dan masih banyak lagi.

Florence Pugh Mencapai Klimaks

Dalam Thunderbolts, emosi Florence Pugh mencapai klimaks berkali-kali dan penonton maklum jika tongkat estafet Natasha Romanoff jatuh ke tangannya. Di sisi lain, pertumbuhan yang sama diperlihatkan Wyatt Russell sebagai Kapten Amerika “kelas rendahan.”

Benang merah yang menyatukan Yelena, Alexei, John Walker, Ava, dan Bob adalah masa lalu buruk. Mereka bukan pilihan pertama. “Produk gagal” dalam hidup dan hasil uji coba. Berkali mereka mencoba lepas masa lalu kelam dan melupakan aib pribadi tapi sulit.

Aib termanifestasi lewat visual manusia hitam legam seperti tampak dalam trailer (siapa dia dan mengapa begitu, silakan Anda tonton sendiri). Dari dia, pemahaman penonton di bawa ke level basic tentang siapa musuh manusia sebenarnya.

 

Menjadi Aksi Psikologis

Pada babak ini, Thunderbolts bukan lagi bergenre action-adventure melainkan aksi-psikologis yang berbicara soal jiwa hampa, kesepian, kekerasan dalam rumah tangga, berdamai dengan masa lalu, pentingnya penerimaan diri, dan kehadiran sahabat yang tidak menghakimi.

Penulis naskah Eric Pearson dan Joanna Calo juga bicara soal ego jangan dilawan. Jika ego mati, maka mati pula karakter seseorang. Masa lalu jangan dimatikan. Tanpa masa lalu, tak ada masa depan. Berdamai dengan ego dan masa lalu sejatinya tak bisa dilakukan sendirian.

 

Visual Ruang-ruang Aib

Babak ketiga menyajikan semua itu dengan kedalaman tak terduga. Visual ruang-ruang aib masa lalu yang tak bisa diperbaiki (karena kadung terjadi dan tidak ada Doctor Strange di sini), adalah bagian paling menyesakan dada.

Terasa real dan relate karena kita akan selalu mengingat bahkan setelah kita mengikhlaskan sekalipun. Disajikan dengan cipratan humor khas Marvel, Thunderbolts tak lantas kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari jagat sinema Marvel itu sendiri.

Lebih dari itu, film ini meletakkan fondasi baru dengan pesan kuat. Jangan sok mau menyelamatkan dunia jika belum mampu menyelamatkan diri sendiri dari rasa bersalah dan takut pada masa lalu. Selesaikan dulu masalah sendiri baru mengurusi dunia.

 

Kejutan di Awal Musim Panas

Thunderbolts kejutan di awal musim panas. Ia angin segar di tengah stagnasi film setelan pabrik dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya, ada dua daya tarik utama Thunderbolts. Pertama, semua pemain tampil dalam porsi pas bahkan prima.

Kedua, naskah solid dengan tema “menusuk.” Visualnya memang fantasi. Maknanya membawa kita bertanya pada hal-hal fundamental seperti: Sudahkah kita menerima diri sendiri termasuk kesalahan, kegagalan, dan aib masa lalu?

 

 

 

Pemain: Florence Pugh, Sebastian Stan, Wyatt Russell, Olga Kurylenko, Lewis Pullman, David Harbour, Hannah John-Kamen, Julia Louis-Dreyfus

Produser: Kevin Feige

Sutradara: Jake Schreier

Penulis: Eric Pearson, Joanna Calo

Produksi:  Marvel Studios, Walt Disney Studios

Durasi: 126 menit

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan