Perjalanan Pionir Grafolog Indonesia Gusti Aju Dewi, Mengharumkan Nama Indonesia di Kancah Global

Gusti Aju Dewi terus berkontribusi bagi Tanah Air.

Diperbarui 03 November 2024, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Saya terdorong untuk terus mengembangkan grafologi di Tanah Air agar setiap individu dapat mengenali dan mengasah potensinya. Dengan begitu, kita bisa bergerak maju bersama sebagai bangsa yang kuat," ujarnya melalui siaran pers.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Gusti Aju juga mendirikan ISOG (Indonesian School of Graphologist), sebuah institusi yang bertujuan memfasilitasi masyarakat yang berminat mendalami grafologi secara profesional yang didukung oleh beberapa praktisi Grafolog Internasional.

Menghapus Ilusi Inferioritas dan Membangun Kepercayaan Diri Bangsa

Pengalaman berinteraksi dengan berbagai individu dari dalam dan luar negeri melalui grafologi telah memberinya keyakinan bahwa tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk merasa inferior.  

"Grafologi menunjukkan bahwa setiap orang memiliki keunikan dan potensi yang sama. Ilusi bahwa bangsa lain lebih unggul adalah hambatan yang harus kita hilangkan," tuturnya. "Dengan pengembangan diri yang tepat, kita dapat mencapai prestasi yang sama bahkan lebih baik."

Partisipasinya dalam forum-forum internasional memperkuat keyakinannya bahwa Indonesia memiliki tempat di panggung dunia. "Dulu, saya merasa negara lain lebih maju, tetapi pengalaman beberapa kali menjadi pembicara di Amerika dan Meksiko membuktikan bahwa kita mampu bersaing dan berkontribusi secara setara," katanya.

Gusti Aju yang juga juga anggota IKAL Strategic Center berharap perjalanannya dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk berani mengembangkan diri dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. "Sebagai manusia, kita semua memiliki potensi yang sama," tegasnya.

 

Perubahan Nama dan Penerimaan Diri

Pada tahun 2023, sosok yang sebelumnya selama 13 tahun dikenal sebagai Deborah Dewi memutuskan untuk kembali menggunakan nama lahirnya, Gusti Aju Dewi, sebagai bentuk pendewasaan diri dan penerimaan utuh atas identitasnya. "Perjalanan bersama grafologi menyadarkan saya bahwa pencapaian terbesar dalam hidup adalah pengendalian diri yang dimulai dengan penerimaan diri secara utuh," ungkap Gusti Aju.  

Meski publik telah mengenalnya selama 13 tahun sebagai pionir grafologi di Indonesia dengan nama Deborah Dewi, ia merasa sudah saatnya untuk kembali ke akar identitasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan