Manja Band Asal Bali Berintrospeksi Sambil Ekspresikan Sisi Sensitif Personelnya Melalui Wax & Feathers

Manja merilis single Wax & Feathers, jadi lagu paling introspektif grup band pop-rock alternatif asal Bali ini.

Diterbitkan 04 Oktober 2024, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Manja, trio band asal Bali, kembali meluncurkan singel terbaru yang sarat emosi, mengenai berserah dan memaafkan diri. Lagu ini hanya berselang beberapa bulan setelah terbitnya tembang ceria penuh semangat Manja yang berjudul "My Oh My".

Grup bergenre pop-rock alternatif asal Bali ini kembali dengan single paling introspektif mereka, "Wax & Feathers". Lagu ini sangat personal bagi mereka bertiga lantaran terpengaruh oleh perjuangan masa lalu sang biduan utama, James Sukadana, dalam mengelola kesehatan mentalnya.

Hal itu menunjukkan kepiawaian Manja band dalam memadukan lirik yang reflektif dengan dendangan khasnya. "Wax & Feathers" pun digubah sepanjang momen penting nan genting di kehidupan James. Mentalnya sempat terganggu dan mendapati dirinya berada di tepi juran (dalam makna literal) serta emosional.

Judul dan lirik lagu tersebut dicomot dari catatan yang ditulis James kepada adik perempuannya, sepucuk perumpamaan yang menggambarkan seberapa rapuh kondisi mentalnya melalui salah satu potongan lirik, “My wax has melted, my feather is coming off, and it’s my time to fall.”

 

Perjalanan James Menemukan Jati Diri

Lagu "Wax & Feathers" mengisahkan perjalanan James yang kemudian menemukan jati diri serta penyembuhan diri. Australia yang disangkanya bakal menjadi tempatnya berlabuh ternyata menyuguhkan realita berbeda, bahkan mendorongnya ke lembah kegelapan. Sampai berujung mendaratkannya kembali ke Bali, tanah kelahirannya, untuk memulai hidup baru.

"Kegagalan adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan itu bukanlah kegagalan tapi pelajaran, asalkan kamu bisa bangkit lagi," renung James.

Di tembang itu juga James menanggalkan polah pria yang cenderung kukuh berkutat pada kesalahan masa lalu. James memilih nrimo dan beringsut bergulir maju, memanifestasikan hari esok yang lebih baik.

 

Menjadi Semakin Signifikan

Kepiluan “Wax & Feathers” menjadi semakin signifikan karena James saat ini terpaksa berhenti dari segala aktivitas bermusik disebabkan terdiagnosa nodul pita suara, yang membuatnya tidak bisa melakukan satu hal yang paling ia cintai: bernyanyi. Akibatnya, MANJA saat ini berada dalam keadaan yang tidak menentu. Apa artinya ini bagi masa depan MANJA?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Kami telah melalui banyak hal, baik sebagai individu maupun sebagai band. Kami tahu bagaimana rasanya jatuh. Namun, di saat yang sama, kami juga tahu bagaimana caranya bangkit kembali. Kami harus terus menjaga semangat tetap menyala,” tegas James, menginspirasi kami dengan ketangguhan mereka. Terdiri dari James dan duo adik-kakak Nick Pratama pada gitar serta Mark Saputra sebagai pemain keyboard, MANJA dikenal dengan lagu-lagu ceria dan bersemangat yang membuat orang ingin menari. Namun, “Wax & Feathers” menandai evolusi signifikan dalam ekspresi artistik mereka.

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan