Resensi Film Rose: Perjalanan Psiskis Pasien Penyakit Skizofrenia, Tamparan Buat yang Ngaku Waras

Rose menampilkan Inger yang mengidap Skizofrenia. Sineas Niels Arden Oplev membawa audiens menyelami pikiran sang penyintas seraya berempati padanya.

Diperbarui 10 Juli 2023, 22:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, ada dua figur pendukung yang efektif mewakili perasaan mayoritas audiens: Vagn dan Ellen. Kadang mereka bisa sabar dan paham betul. Kadang, kesabaran mereka berada di ambang hingga 10 menit menghadapi Inger serasa bagai siksa berkepanjangan.

 

Bagaimana Skizofrenia Berdampak

Niels Arden Oplev bisa menerjemahkan dengan detail bagaimana Skizofrenia berdampak tak hanya ke psikis tapi juga fisik pasien yang bertransformasi menjadi ringkih dan tampak sekian tahun lebih tua daripada mereka yang sehat.

Jujur saja, dalam film ini Inger sebagai poros tampak lebih tua dari Ellen dan sepantaran dengan ibu kandungnya. Di sinilah, penggambaran karakter berpenyakit Skizofrenia terasa riil dan meyakinkan.

 

Performa Sofie Grabol

Performa Sofie Grabol dari gaya bicara, cara menatap lawan bicara, merengek hingga marah, postur tubuh kala berdiri maupun berjalan, semuanya terasa believable. Ditambah dengan gaya berbusananya, tanpa bicara pun penonton paham ada yang tak beres dengan psikis Inger.

Ellen dan Vagn adalah support system yang imperfect. Justru di sinilah titik kesempurnaan drama keluarga berbasis isu kesehatan mental ini. Terlalu film jika Ellen digambarkan 100 persen sabar dan tak pernah marah. Jika diperlukan, ia tak segan menampar.

Niels Arden Oplev sadar betul, tanpa didramatisasi, materi Rose sudah drama banget. Maka, serpihan bumbu komedi berkali ditabur agar Rose tak terlalu pekat sembari tetap fokus pada perjalanan batin pasien dengan penyakit jiwa.

 

Kekuatan Lain Film Ini

Kekuatan lain film ini, sejatinya ada pada pemilihan pemain. Semua yang muncul di layar berakting prima. Yang bikin kami penasaran adalah sekeren apa sih Jacques hingga Inger sampai “kehilangan nalar” kala putus cinta.

Ada satu momen yang membingkai datangnya Jacques dalam kondisi paruh baya. Di usia tak lagi muda, Jean Pierre Lorit tetap karismatik. Dengan penampilannya, berbalut adegan simpel dilatari ruangan apartemen, kami bisa membayangkan seganteng apa Jacques di masa muda.

Ujungnya, kami maklum jika berada di posisi Inger. Belum lagi, di sejumlah adegan, dijelaskan seberapa dalam Inger melangkah bersama Jacques termasuk aktivitas seksual mereka yang lumayan liar.

 

Mukjizat dalam Skala

Rose bukan hanya perjalanan psikis Inger. Ia adalah perjalanan psikis penonton untuk memahami kondisi orang lain. Bahwa dalam perjuangannya melawan penyakit dan berdamai dengan keadaan, Inger masih bisa bermanfaat serta membahagiakan orang lain.

Rose adalah tamparan bagi nurani penonton yang mengaku waras. Sudahkah kita menjadi manfaat bagi sesama meski hanya dengan kebaikan senoktah? Jangan harap Rose menyajikan mukjizat dahysat soal kesembuhan.

Film ini berbicara mukjizat dalam skala “mikro” tentang kasih sayang adik, berdamai dengan masa lalu, menjadi mnafaat meski dilabeli “gila”, dan setumpuk keajaiban hati lain. Adegan akhir Rose simpel tapi dalam banget. Wajib tonton.

 

 

Pemain: Sofie Grabol, Lene Maria Christensen, Anders W. Berthelsen, Soren Malling, Luca Riechardt Ben Coker, Karen Lise Mynster, Jean Pierre Lorit, Christiane Gjellerup Koch

Produser: Thomas Heinesen

Sutradara: Niels Arden Oplev

Penulis: Niels Arden Oplev

Produksi: Bankside Films, Nordisk Film Production

Durasi: 1 jam, 46 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan