Pengobatan Skizofrenia Terkendala Stigma, Banyak Pasien Dibawa ke 'Orang Pintar'

Pengobatan skizofrenia masih terkendala stigma dan kepercayaan mistis, menyebabkan pasien terlambat ditangani dan berisiko kehilangan peluang pulih.

Diterbitkan 02 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengobatan skizofrenia di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan, terutama dari faktor budaya dan stigma masyarakat. Tidak sedikit keluarga yang justru memilih pengobatan alternatif atau pendekatan mistis sebagai langkah pertama sebelum mencari bantuan medis. Dalam banyak kasus, pasien lebih dulu dibawa ke 'orang pintar' karena gejala skizofrenia kerap disalahartikan sebagai gangguan non-medis, seperti kerasukan atau pengaruh gaib.

Akibatnya, diagnosis menjadi terlambat dan peluang pemulihan pasien pun menurun. Keterlambatan pengobatan skizofrenia juga dipengaruhi oleh stigma terhadap layanan kesehatan jiwa yang masih dianggap tabu. Banyak keluarga merasa takut atau malu untuk berkonsultasi ke psikiater.

Selain itu, keterbatasan jumlah tenaga profesional, khususnya psikiater, membuat akses layanan kesehatan jiwa belum merata di Indonesia. Kondisi ini semakin memperpanjang waktu penanganan pasien.

Spesialis psikiatri, Jiemi Ardian, menegaskan bahwa penanganan sejak dini sangat menentukan keberhasilan terapi. "Semakin lama pengobatannya ditunda, semakin buruk harapan ke depannya. Yang seharusnya seseorang bisa normal, menjadi kehilangan harapan untuk bisa menjadi normal," ujarnya dikutip dari unggahan di Youtube Malaka Projectid pada Rabu, 1 April 2026.

Dampak Keterlambatan Pengobatan Skizofrenia

Keterlambatan pengobatan skizofrenia tidak hanya berdampak pada kondisi klinis pasien tapi juga memicu masalah sosial yang lebih luas.

Pasien yang tidak segera mendapatkan terapi berisiko:

  • Kehilangan kesempatan bekerja
  • Sulit bersosialisasi
  • Tidak mampu hidup mandiri

Dalam kondisi yang lebih berat, pasien bahkan bisa mengalami kekerasan, penelantaran, hingga pemasungan karena dianggap membahayakan lingkungan.

Padahal, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah jika penanganan dilakukan sejak fase awal gejala.

"Kami mau orang yang terkena skizofrenia bisa kembali aktif di masyarakat dan produktif. Tapi sayangnya, ini tidak bisa terjadi karena budaya kita masih mewajarkan pergi ke orang pintar terlebih dahulu," kata Jiemi.

Hambatan pengobatan skizofrenia bukan hanya soal layanan kesehatan tapi juga berkaitan dengan pola pikir kolektif masyarakat.

Kepercayaan turun-temurun, rendahnya literasi kesehatan jiwa, serta akses layanan yang belum merata membuat banyak keluarga mengambil keputusan berdasarkan keyakinan sosial, bukan kebutuhan medis.

Akibatnya, pasien kehilangan momentum penting untuk pulih.

Dampak lebih luasnya, Indonesia menghadapi beban disabilitas yang tinggi akibat skizofrenia, sekaligus kehilangan potensi sumber daya manusia yang sebenarnya masih bisa dipulihkan.

Stigma Lainnya

Masalah lain dalam pengobatan skizofrenia adalah stigma terhadap penggunaan obat psikiatri. Banyak keluarga menganggap:

  • Berobat ke psikiater sebagai aib
  • Obat jangka panjang berbahaya
  • Obat dapat menyebabkan ketergantungan

Padahal, persepsi ini tidak sepenuhnya benar. Justru penghentian terapi tanpa pengawasan medis dapat memperparah gejala dan meningkatkan risiko kekambuhan.

"Sebenarnya pertolongan ke medis, ke dokter, ke psikiater memang masih dianggap tabu di masyarakat kita," katanya.

Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, edukasi kesehatan jiwa perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Melibatkan tokoh lokal, keluarga, dan tenaga kesehatan menjadi langkah penting agar pemahaman tentang pengobatan skizofrenia semakin luas.

Masyarakat perlu memahami bahwa skizofrenia adalah kondisi medis yang dapat ditangani, bukan persoalan mistis. Dengan perubahan pola pikir ini, peluang pasien untuk pulih, kembali produktif, dan hidup bermartabat akan jauh lebih besar.