Jangan Sebut Anak Nakal, Bisa Berdampak pada Pola Pikirnya

Psikiater ingatkan orangtua untuk tidak memberi label anak nakal, baik kepada anak sendiri maupun anak di sekitar.

Diterbitkan 01 April 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bandung - Dokter spesialis kedokteran jiwa, Gemah Nuripah mengingatkan orangtua menghindari melabeli si Kecil dengan anak nakal. Tidak hanya kepada anak sendiri, mencontohkan penggunaan istilah anak nakal terhadap orang lain juga harus dihindari karena hal itu merupakan pernyataan negatif.

"Nah, itu kan nakal itu sesuatu yang negatif itu akan didengar oleh anak. Kemudian dia masukkan ke dalam pikirannya dan dia mungkin akan berperilaku sesuai dengan pikirannya. Jadi kalau dia berpikiran saya itu nakal, maka dia itu akan berbuat berperilaku layaknya anak nakal," kata Gemah.

Artinya, lanjut Gemah, jika anak sudah terlanjur dianggap oleh orangtuanya nakal, maka akan mempraktikan berbagai tindakan yang kerap berkaitan dengan kalimat anak nakal.

Justru kalimat yang terdengar sepele itu sebut Gemah, dapat menstigma pola pikirnya anak sebagai kenakalan yang sudah disebut oleh orangtuanya.

"Karena dia sudah mengetahui, 'Ah, saya dicap nakal sama ibu saya, memang saya nakal'. Ya, saya bebas dong melakukan perilaku yang nakal. Karena saya kan anak nakal seperti itu. Jadi sebaiknya hindari kata-kata tersebut," terang Gemah.

Lebih lanjut, Gemah mengatakan bahwa figur orangtua yang baik maka cenderung anak akan mengikuti. "Jadi anak memiliki figur orangtua yang baik, kemudian dia juga bisa percaya diri seperti itu ya. Dia juga berani untuk mengatakan tidak pada temannya atau lingkungan yang mengajaknya negatif," ujar Gemah dalam program acara Sapa Dokter Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, ditulis Rabu (1/4/2026).

 

Tulus Mencintai Anak

Sebagai orangtua sudah seharusnya mencintai anak secara tulus. Bagaimanapun kondisi anak saat ini, mungkin terdapat kekurangan dalam hal apapun orangtua harus tetap mencintainya.

"Jadi kita sampaikan pada anak bahwa ayah ibu mencintai kamu ya. Kemudian pelukan juga itu diperlukan ya. Jadi kontak fisik itu membuat anak merasa nyaman. Itu yang pertama," ungkap Gemah.

Tahap kedua, Gemah mengatakan lakukan komunikasi yang baik secara terbuka. Dalam hal ini, sebagai orang tua harus lebih sering mendengarkan.

Hindari tindakaan atau perkataan menghakimi atau menyalahkan. Dengarkan dahulu apa yang akan disampaikan oleh anak, bagaimana perasaannya, berempatiterhadap perasaan anak.

"Misalnya kita sampaikan ya, ibu tahu kamu sedang sedih, ibu bisa merasakan. Nah, seperti itu," ungkap Gemah.

Tahap ketiga yaitu sebagai orang tuatetap harus mengajarkan disiplin pada anak. Berbagai aturan harus dikerjakan oleh anak di rumah. Kemudian dengan segala konsekuensinya, orang tua juga jangan lupa memberikan penghargaan.

Penghargaan yang dimaksud tidak hanya sebatas barang. Namun sebut Gemah, penghargaan kepada anak yang telah berhasil menjalankan kewajibannya dapat berupa kalimat penyemangat.

"Kalau anak berbuat yang baik, maka kita berikan pujian boleh dalam bentuk apa saja ya, kontak fisik atau yang lain-lainnya sosial misalnya ya pujian gitu. Dan apabila anak tidak mengerjakan yang sudah disepakati, maka kita bisa berikan punishment," terang Gemah.

Beri Anak Hukuman, Boleh Tidak?

Gemah mengingatkan punishment atau hukuman yang diberikan dapat berupa tidak mengikuti permintaan atau tidak mengabulkan sementara keinginannya.

Tahap parenting yang sangat penting adalah orangtua harus memberi teladan bagi anaknya. Salah satunya adalah dengan mengerjakan pekerjaan yang sama kepada anak.

"Jadi misalnya kita mengajak apa, tapi orangtua ya harus sama melakukan hal yang sama. Jadi jangan sampai kita menyuruh anak berbuat yang baik tapi sebagai orang tua kita tidak memberikan contoh gitu," tutur Gemah.

Kedua orang tua juga harus konisiten dengan keputusan yang telah ditetapkan kepada anak. Walaupun caranya berbeda misalnya kalau yang ibu lebih lembut, ayah lebih tegas, tetapi harus konsisten.

Jika ayah melarang sesuatu hal, maka ibu juga harus ikut melarang. Sama halnya jika ayah membolehkan, maka ibu juga harus membolehkan.

"Nah, ini kebingungan anak tuh bisa terjadi apabila ayah dan ibu itu bertentangan. Ya, mungkin contoh parenting yang baik seperti itu," ungkap Gemah.

Patut diakui mendidik anak agar menjadi pribadi tangguh secara mental dan spiritual kerap terkendala dengan berbagai hal. Namun, ditengah terpaan informasi yang kencang melalui teknologi gawai, tantangan tersebut kembali dipertajam.

Untuk itu, sebaiknya para orangtua agar lebih bijaksana dan komunikatif dalam menerapkan pola asuh terhadap anaknya. Tindakan tegas diperlukan, namun harus dilakukan secara bijaksana.