Liputan6.com, Jakarta - Membersihkan alat makan yang terkontaminasi tikus tidak boleh sembarangan. Pasalnya, tikus adalah hewan pembawa patogen termasuk bakteri, virus, dan jamur.
Menurut epidemiolog sekaligus ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, Ph.D., membersihkan alat makan yang terkontaminasi urine, feses, dan liur tikus perlu dilakukan dengan pendekatan protokol disinfeksi.
“Cara membersihkan tempat makan yang terkontaminasi tikus tentu pendekatannya perlu prinsip environmental health sanitation dan disinfection protocol. Standarnya itu ya isolasi dan eliminasi semua sumbernya,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com saat dihubungi pada Rabu (1/4/2026).
Advertisement
“Jadi buang semua makanan yang sudah terpapar itu dan jangan mencoba menyelamatkan makanan, merasa sayang dan sebagainya. Itu harus dibuang karena sudah terpapar, berbahaya (jika dikonsumsi),” tambahnya.
Setelah semua makanan yang tercemar dibuang, maka langkah selanjutnya adalah pembersihan awal. Dalam melakukannya, perlu gunakan sarung tangan, masker, kemudian bersihkan alat makan dengan detergen.
“Kemudian disinfeksi, jadi ini biasanya menggunakan larutan bleach khusus atau disinfektan food grade. Biarkan 10 menit untuk membuat patogennya menjadi tidak aktif setelah itu lakukan pembilasan. Bilas dengan air bersih kemudian pengeringan dengan udara (air dry), jangan dibersihkan dengan lap kotor itu tidak higienis,” imbaunya.
Jika sudah terlihat satu tikus saja di area dapur, sambung Dicky, maka perlu dilakukan pengendalian tikus atau rodent control oleh petugas khusus secara berkala. Tutup akses masuknya dan perbaiki sanitasi lingkungannya.
Bahaya Konsumsi Makanan Terkontaminasi Tikus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5543430/original/022099900_1775025624-Dicky_budiman.jpg)
Sebelumnya, Dikcy memaparkan bahwa mengonsumsi makanan yang terkontaminasi tikus dapat memicu masalah kesehatan serius.
“Ingat tikus itu adalah reservoir (pembawa) berbagai patogen (virus, bakteri, jamur) dan kontaminasi bisa melalui urine tikusnya, kotoran, air liur, atau kontak permukaan tubuh yang disebut fur contamination karena tubuhnya kan ada bulunya juga,” kata Dicky.
Dia menambahkan, risiko penyakit utama yang bisa timbul akibat konsumsi makanan yang terkontaminasi tikus adalah infeksi bakteri leptospirosis. Infeksi ini ditularkan melalui urine tikus.
“Ini bisa menyebabkan gagal ginjal bahkan kematian,” ujarnya.
Selain itu, ada pula risiko salmonellosis yang berisiko buruk pada anak dan lanjut usia (lansia) karena dapat memicu diare berat.
“Kemudian infeksi hantavirus, ini yang bisa menyebabkan sindrom penyakit paru berat yang fatalitas atau kematiannya juga tinggi,” jelasnya.
Selain infeksi bakteri, tikus juga bisa memicu kontaminasi parasit. Bisa dalam bentuk cacing atau telur cacing yang biasanya terbawa oleh kotoran tikus.
“Hal lain yang juga bisa terjadi, risiko toksikologis karena kontaminasi mikroba ini dapat menghasilkan enterotoksin yang berbahaya meskipun makanan sudah dipanaskan,” jelas Dicky.
Advertisement
Kontak Singkat Tikus dengan Wadah Makanan Tetap Berbahaya
Dicky menggarisbawahi, meski tikus tidak kencing atau buang kotoran, tapi konsumsi makanan yang terkontaminasi tikus tetap berbahaya.
“Ini tetap berbahaya karena tikus ini membawa mikroba penyebab penyakit itu pada bulunya, pada kakinya, dan air liur atau salivanya. Jadi kontaminasi ini dapat terjadi hanya dengan tikus berjalan di atas makanan atau kontak singkat dengan wadah makanan,” paparnya.
“Dan ingat, beberapa patogen seperti salmonella itu punya karakter low infection dose, artinya jumlah sedikit saja sudah cukup menyebabkan infeksi. Dan dalam perspektif epidemiologi, kehadiran tikus di area makanan itu menandakan kondisi tidak layak konsumsi tanpa perlu bukti kontaminasi visual,” katanya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5543429/original/019650300_1775025624-kontaminasi_tikus.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263358/original/034169000_1781903942-063_2282397014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8860259/original/052842500_1782927734-063_2284210517.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8566533/original/022742400_1782517134-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8857137/original/028052200_1782926603-000_B8XV4GC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8853200/original/078672700_1782925162-063_2284202015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5494073/original/053956000_1770276785-Menunjukkan_sisa_sabun_di_gelas__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5543327/original/047254100_1775021947-tikus.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539900/original/021439100_1774666351-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3347413/original/042285900_1610472196-photo-1601409751311-cbecfe223af4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542430/original/087882100_1774943460-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_14.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119614/original/001875100_1738589172-Asam_urat_12.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5124885/original/086799300_1738907998-sick-woman-with-cough-throat-infection-bed-covering-his-face-while-coughing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511527/original/016228600_1771911725-andi_saguni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5165103/original/078817000_1742183663-8c4278ca1293a18e3e71517700b35407.jpg)