6 Fakta Novel Heartbreak Motel Karya Ika Natassa: Interviu Reza Rahadian Hingga Ikut Kelas Natalie Portman

Ika Natassa melahirkan sejumlah novel laris yang diangkat ke layar lebar seperti Critical Eleven dan Twivortiare. Kini, ia melahirkan Heartbreak Motel.

Diterbitkan 08 Agustus 2022, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ava dalam Heartbreak Motel tak demikian. “Saya ingin Ava cukup jadi orang yang nyata, manusiawi layaknya kita. Ada kalanya ia membuat keputusan yang dipertanyakan orang lain namun kita bisa maklum, berempati pada kondisi yang dihadapinya,” ia mengulas.

3. Menulis Tanpa Outline

Mayoritas penulis novel membuat outline atau kerangka alur yang memudahkan mereka dalam menata babak demi babak lalu menyelesaikannya sesuai tenggat waktu yang disepakati dengan editor. Ika Natassa tak begitu.

“Saya menulis tanpa outline, mengalir apa adanya. Alasannya, karena tidak ingin memenjarakan cerita. Dalam pikiran saya sudah tergambar jelas orang atau tokoh ini bagaimana, apa masalahnya, lalu bagaimana menghadapinya,” Ika Natassa membeberkan.

 

4. Ikut Kelas Peraih Oscar

Baru menyibak tiga bab pertama saja, Heartbreak Motel terasa sangat filmis. Alurnya membuat pembaca penasaran lalu merunut kisah Ava. Rupanya, Ika Natassa membuat sejumlah persiapan sebelum menuang cerita. Salah satunya, ikut kelas akting daring.

“Saya mengikuti kelas akting atau masterclass daring milik Helen Mirren, Natalie Portman, dan kelas menulis naskah Aaron Sorkin. Ini penting untuk menyelami dunia akting, penulisan, dan wajah industri layar lebar sebenarnya,” tuturnya.

Sebagai informasi, Helen Mirren adalah aktris Inggris yang meraih Piala Oscar lewat The Queen. Natalie Portman menggenggam Oscar setelah tampil brilian dalam Black Swan. Aaron Sorkin menang Oscar Penulis Skenario Adaptasi Terbaik via The Social Network.

 

5. Reza Rahadian Hingga Hannah Al Rashid

Tak henti sampai di situ, Ika Natassa pun meriset. Salah satu teknik risetnya dengan mewawancara sejumlah seniman antara lain, Reza Rahadian, Hannah Al Rashid, dan peraih 2 Piala Citra Raihaanun. Riset ini, menurut Ika Natassa, bukan untuk gaya-gayaan.

“Ketika menulis novel yang tokoh utamanya memiliki profesi spesifik, jangan sampai pekerjaan hanya jadi centelan. Saya ingin mempersilakan pembaca masuk dan merasakan kompleksitas hidup sang tokoh yang salah satunya hadir lewat dunia kerjanya,” urainya.

 

6. Jeda di Tengah Jalan

Pasang surut dialami Ika Natassa dalam menyelesaikan Heartbreak Motel. Ia mengaku sempat mengambil jeda lumayan panjang di tengah jalan untuk memikirkan karakter Raga.

“Saya sempat jeda agak lama untuk memikirkan Raga. Kala itu saya bertanya kepada diri sendiri, Raga baiknya muncul di depan atau pertengahan?” papar penulis kelahiran Medan, 25 Desember 1977.

Dari pemikiran ini, ia menyadari sebuah asas penting. Kadang dalam hidup, kita mesti bertemu orang yang salah dulu. Baru berkontemplasi, bangkit, melanjutkan hidup dan bertemu satu yang tepat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan