Resensi Film Spencer: Kristen Stewart Menjelma Putri Diana, Diganjar Nominasi Oscar 2022

Salah satu kejutan Oscar 2022, masuknya nama Kristen Stewart di kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Spencer. Berikut resensi film Spencer.

Diterbitkan 21 Februari 2022, 16:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Lady Di, Putri Diana, Diana Spencer, Princess of Wales atau apapun gelarnya adalah ikon. Ia sinonim dari kelembutan, kebajikan, kekuatan, kecantikan lintas dekade, dan masih banyak lagi.

Puluhan tahun berlalu sejak kepergian Putri Diana, dunia masih saja mengenang dan membandingkannya, setidaknya dengan Kate Middleton sang menantu. Dari gaun pengantin, busana pascabersalin, perhiasan, dan sejumlah elemen lain.

Diana beberapa kali diangkat ke layar lebar. Yang terbaru, diperankan Kristen Stewart dengan arahan sineas Pablo Larraín. Lewat Spencer, ia meraih nominasi Oscar 2022 Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikut review film Spencer.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Fase Kelam Seorang Putri

Spencer memotret fase hidup Diana (Kristen Stewart) di persimpangan. Rumah tangganya dengan Pangeran Charles (Jack Farthing) dikaruniai dua putra yakni William (Jack Nielen) dan Harry (Freddie Spry). Keluarga ini di ambang kehancuran.

Charles tepergok memberi kalung mutiara yang sama dengan miliknya kepada wanita lain. Sejak itu, hubungan keduanya dingin. Desember 1991, Diana diminta datang ke Istana untuk merayakan Natal dengan ibadah, jamuan makan, dan buka kado bersama Ratu Elizabeth II (Stella Gonet)

Diana datang terlambat. Para petinggi istana gelisah. Diana merasa tak ada yang bisa dipercaya di Istana kecuali asistennya, Maggie (Sally Hawkins). Tekanan meninggi saat paparazi berupaya mengambil foto dari jendela kamar Diana yang tak tertutup tirai.

Diana minta William dan Harry mengingatkannya jika mulai bersikap konyol di istana. Puncaknya, saat Diana ogah melanjutkan makan malam dengan Sang Ratu. Ia memilih kembali ke rumah masa kecilnya. Di sanalah beban terlepas meski tak sepenuhnya.

 

Bukan Biografi Utuh

Spencer bukanlah biografi utuh. Tujuannya pun bukan untuk mengglorifikasi Lady Di semasa hidup. Sebaliknya. Adegan pertama film ini memperlihatkan Diana tersesat dan saking gondoknya, dia mengucap kata f**k.

Hal yang tak pernah terpikir oleh khalayak keluar dari mulut Diana. Setelahnya, adalah fase-fase kelam yang mengacak-acak kondisi kejiwaan seorang putri. Konfliknya terasa dalam, meyentuh aspek psikologis. Hampir keseluruhan film ini memperlihatkan sisi kelam kehidupan Diana.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Datang terlambat. Marah karena perapian tak menyala padahal Natal 1991 sangat dingin. Lelah dengan tradisi. Mengancam akan mengoyak gaun dengan pisau dapur. Salah kostum saat kebaktian di gereja. Dan setumpuk “kesalahan” lain.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan