Sukses

Resensi Film Spencer: Kristen Stewart Menjelma Putri Diana, Diganjar Nominasi Oscar 2022

Liputan6.com, Jakarta Lady Di, Putri Diana, Diana Spencer, Princess of Wales atau apapun gelarnya adalah ikon. Ia sinonim dari kelembutan, kebajikan, kekuatan, kecantikan lintas dekade, dan masih banyak lagi.

Puluhan tahun berlalu sejak kepergian Putri Diana, dunia masih saja mengenang dan membandingkannya, setidaknya dengan Kate Middleton sang menantu. Dari gaun pengantin, busana pascabersalin, perhiasan, dan sejumlah elemen lain.

Diana beberapa kali diangkat ke layar lebar. Yang terbaru, diperankan Kristen Stewart dengan arahan sineas Pablo Larraín. Lewat Spencer, ia meraih nominasi Oscar 2022 Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikut review film Spencer.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 7 halaman

Fase Kelam Seorang Putri

Spencer memotret fase hidup Diana (Kristen Stewart) di persimpangan. Rumah tangganya dengan Pangeran Charles (Jack Farthing) dikaruniai dua putra yakni William (Jack Nielen) dan Harry (Freddie Spry). Keluarga ini di ambang kehancuran.

Charles tepergok memberi kalung mutiara yang sama dengan miliknya kepada wanita lain. Sejak itu, hubungan keduanya dingin. Desember 1991, Diana diminta datang ke Istana untuk merayakan Natal dengan ibadah, jamuan makan, dan buka kado bersama Ratu Elizabeth II (Stella Gonet)

Diana datang terlambat. Para petinggi istana gelisah. Diana merasa tak ada yang bisa dipercaya di Istana kecuali asistennya, Maggie (Sally Hawkins). Tekanan meninggi saat paparazi berupaya mengambil foto dari jendela kamar Diana yang tak tertutup tirai.

Diana minta William dan Harry mengingatkannya jika mulai bersikap konyol di istana. Puncaknya, saat Diana ogah melanjutkan makan malam dengan Sang Ratu. Ia memilih kembali ke rumah masa kecilnya. Di sanalah beban terlepas meski tak sepenuhnya.

 

3 dari 7 halaman

Bukan Biografi Utuh

Spencer bukanlah biografi utuh. Tujuannya pun bukan untuk mengglorifikasi Lady Di semasa hidup. Sebaliknya. Adegan pertama film ini memperlihatkan Diana tersesat dan saking gondoknya, dia mengucap kata f**k.

Hal yang tak pernah terpikir oleh khalayak keluar dari mulut Diana. Setelahnya, adalah fase-fase kelam yang mengacak-acak kondisi Kejiwaan seorang putri. Konfliknya terasa dalam, meyentuh aspek psikologis. Hampir keseluruhan film ini memperlihatkan sisi kelam kehidupan Diana.

Datang terlambat. Marah karena perapian tak menyala padahal Natal 1991 sangat dingin. Lelah dengan tradisi. Mengancam akan mengoyak gaun dengan pisau dapur. Salah kostum saat kebaktian di gereja. Dan setumpuk “kesalahan” lain.

4 dari 7 halaman

Bukan Lagi Kristen Stewart

Lalu, Steven Knight mengajak kita memahami mengapa Diana Spencer menjadi seperti ini. Kecemburuan. Merasa tak aman. Kesepian. Dan ya, itu tadi di persimpangan. Semua ini dieksekusi Kristen Stewart dengan sangat brilian. Sekilas ia tampak effortless. Justru inilah daya tariknya.

Tak butuh protetis. Menaikkan atau menurunkan bobot seperti kebiasaan nomine Oscar yang lain. Lewat perubahan gaya rambut gestur, aksentuasi, dan simsalabim! Kristen Stewart menjelma Putri Diana. Kerlingan mata, cara menoleh dan menatap, semuanya adalah Diana Spencer.

Bukan lagi Kristen Stewart. Interaksinya dengan anak-anak terasa hangat sekaligus menyentuh. Yang bikin hati berdesir, kala Diana memberi kado untuk William dan Harry lalu mereka bermain sersan militer.

 

5 dari 7 halaman

Daya Tarik Tata Musik

Diana dan anak-anak saling bertanya. Hanya ada satu aturan dalam permainan ini yakni menjawab jujur. Diana, apakah engkau ingin menjadi ratu? Tidak. Cita-citanya hanya ingin jadi ibu. Namun tampaknya, cita-cita sederhana ini terlalu kompleks dan mahal untuk Princess of Walles.

Diana, apa hal yang paling membuatmu sedih? Dan masih banyak pertanyaan yang terlontar dan di sinilah salah satu puncak emosi yang ditransfer dengan meyakinkan oleh Kristen Stewart.

Daya tarik lain, tata musik. Repitisi musik saat makan malam mengiringi gejolak hati Diana adalah contoh paripurna bagaimana Spencer berubah warna dari drama menjadi thriller. Jamuan malam Natal di istana seketika mencekam padahal tak ada memedi atau pembunuh berantai di sana.

6 dari 7 halaman

Kekuatan Sinematografi

Sinematografinya pun apik. Pergerakan kameranya anggun, mengikuti ketukan suasana hati Diana yang fluktuatif. Di awal, terasa puitis dan hangat. Di pertengahan meredup dan menggulita. Akhir film ini kembali menghangat. 

Golden Globe memberi nominasi Kristen Stewart meski akhirnya mereka memilih Nicole Kidman sebagai pemenang. SAG Awards lebih senang memberi tempat pada Jennifer Hudson dalam Respect ketimbang Spencer.

BAFTA secara mengejutkan menampik performa Kristen Stewart padahal ada enam tempat di kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik. Bisa jadi, karena yang ditawarkan Spencer adalah Lady Di versi “getir.” Kini, Oscar mengapresiasi.

7 dari 7 halaman

Tebus

Percayalah, Spencer bukti autentik keaktoran bintang Twilight. Ia pernah “menang” Aktris Terburuk di ajang Razzie Awards 2013 gara-gara Snow White and the Huntsman serta Twilight Breaking Dawn Part 2.

Kini Kristen Stewart menebus “dosa” masa lalu lewat performa monumental dalam karier sang aktris. Menegangkan sekaligus mengagumkan. Kita melihat kepingan Kristen Stewart di sini. Di saat yang sama, kita yakin bahwa ia bukan Kristen Stewart. Dia adalah Diana. Spencer.

 

Catatan:

Patut diingat, melansir dari laman Wikipedia, genre Spencer adalah historical fiction. Pangeran Charles bisa jadi tak sejulid dalam film. 

Film ini tidak tayang di bioskop. Anda dapat mengaksesnya secara legal lewat platform streaming KlikFilm mulai Februari 2022.

 

 

Pemain: Kristen Stewart, Timothy Spall, Jack Farthing, Sean Harris, Sally Hawkins

Produser: Juan de Dios Larraín, Jonas Dornbach, Paul Webster, Pablo Larraín, Janine Jackowski, Maren Ade

Sutradara: Pablo Larraín

Penulis: Steven Knight

Produksi: Komplizen Film, Fabula, Shoebox Films, FilmNation Entertainment

Durasi: 117 menit

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS