Sukses

Cerita Pilu Anwar Fuady, Istri Tersenyum dan Lambaikan Tangan Sebelum Meninggal

Liputan6.com, Jakarta Anwar Fuady akhirnya buka suara soal kehilangan beruntun yang dialaminya sepanjang Juli 2021. Minggu (18/7/2021), sang istri yakni Farida Cosim meninggal dunia akibat Covid-19.

Tiga hari kemudian, 21 Juli 2021, putra sulung Anwar Fuady, Ferry Senapati, meninggal pukul 13.41 di RS Bhakti Asih, Ciledug, Tanggerang, setelah berjuang melawan Covid-19.

Ditinggal istri dan anak tercinta diterima Anwar Fuady dengan legawa. Bintang sinetron Samudra Cinta itu mengenang komunikasinya bersama Farida Cosim pada hari-hari terakhir.

2 dari 5 halaman

Rutin Tiap Malam

“Biasa komunikasinya, saya itu kan rutin, yang pasti itu malam. Malam itu dia pasti minta tolong (diolesi) minyak kayu putih. Kalau mau ke toilet segala macam saya antar,” kata Anwar Fuady.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit akibat Covid-19 dengan komorbid gangguan ginjal, Anwar Fuady dan Farida Cosim tinggal sekamar. Kontak erat terjadi namun sang aktor tidak terinfeksi.

3 dari 5 halaman

Komunikasi Terakhir

“Terakhir saya komunikasi terus dengan anak saya. Anak saya yang nomor dua, yang jagain dia melalui WhatsApp,” aktor kelahiran Palembang, 14 Maret 1947, itu mengenang.

Ini kami lansir dari video Pilu Anwar Fuady Ditinggal Istri dan Anak Sekaligus dari program Rumpi No Secret di kanal YouTube Trans TV Official, 26 Juli 2021.

4 dari 5 halaman

Sakratul Maut Selesai

Dari komunikasi lewat WhatsApp itu, Anwar Fuady tahu kondisi terakhir sang istri sebelum tutup usia. Bahkan, ia melihat bagaimana Farida Cosim melewati sakratul maut dengan baik.

“Di situ saya baru tahu, saya dapat (informasi) kemudian beliau menjelang sakratul mautnya selesai, dengan bagus sekali. Dia senyum, tenang, malah sempat melambaikan tangan baru putus (nyawa),” urainya. 

5 dari 5 halaman

50 Tahun Lebih

Sekuat-kuatnya mental Anwar Fuady, akhirnya roboh juga kala mengetahui belahan jiwanya menghadap Sang Khalik. “Terus terang saya menangis, saya menangis,” ucap Anwar dengan mata berkaca.

“Bayangkan saya sudah hidup (bersamanya) 50 tahun lebih. Saya menangis tapi enggak lama. Saya berusaha tegar, lalu saya telepon teman-teman terdekat saya,” ia mengakhiri.