3. Kemarau (New Rollies, 1978)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3083653/original/082450700_1584954779-New_Rollies.jpeg)
Salah satu lagu tentang bencana terbaik yang pernah dibuat musisi dalam negeri. “Kemarau” menampar masyarakat Indonesia dengan pertanyaan klise yang terus diulang di bagian refrain, “Mengapa hutanku hilang dan tak pernah tumbuh lagi?”
Lebih dari 40 tahun berlalu sejak tembang ini direkam, pertanyaan itu tetap relevan. Di tengah perubahan iklim global dan banjir yang makin rajin menggenang, penghijauan seolah solusi yang tak kunjung nyata. Pada 2007, lagu karya Oetje F. Tekol dan A. Tirtodibroto ini dinyanyikan kembali Armand Maulana di album Rockestra milik Erwin Gutawa. Versi Armand dan Erwin dilapisi orkestrasi mewah dari London Philharmonic Orchestra.
4. Uluran Tangan (Sheila on 7, 2005)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3083654/original/090893300_1584954779-Sheila_on_7___sheilaon7_.jpg)
Salah satu pusaka kurang populer dari album Kita Untuk Mereka, “Uluran Tangan” dari Sheila on 7. Ditulis sang vokalis, Akhdiyat Duta Modjo, lagu ini memotret dampak tsunami dari sisi yang amat personal, yakni korban. Tiap mendengar lagu ini, mata ini selalu berkaca. Duta bertutur tentang bocah yang selamat dari amukan ombak tengah duduk di samping jenazah yang ternyata ayah kandungnya sendiri.
Perhatikan liriknya, “Kawan kecil, kau menunduk dan tertegun, pandangi lelaki yang terkapar di sampingmu. Mereka bilang itu ayahmu.” Duta bercerita, ibu bocah ini tak ditemukan. Suara Duta dalam balada ini seperti sedang meratap. Di ujung lagu, Duta percaya bahwa, “Dewasa kelak kau kembali, bangkitkan bumi kita agar tak lagi merintih.”
5. Untuk Kita Renungkan (Ebiet G. Ade, 1982)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3083655/original/097977300_1584954779-Ebiet_G_Ade___ebiet_g_ade_.jpg)
Kepedihan berikutnya melanda pertiwi taklala Gunung Galunggung Jawa Barat meletus. Aktivitas vulkanik yang berlangsung selama 9 bulan, menewaskan tak kurang dari 18 orang berikut kerugian mencapai 1 miliar rupiah. Fantastis untuk era itu. Bencana ini lagi-lagi mengetuk nurani Ebiet G. Ade.
“Untuk Kita Renungkan” yang ditulis musisi bernama asli Abid Ghoffar Bin Aboe Djafar ini menggurat lirik menyentuh. Penggalan liriknya berbunyi, “Anugerah dan bencana adalah kehendakNya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia di atas segalanya.”
6. Usah Kau Lara Sendiri (Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya, 1995)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3084419/original/098941500_1585033682-Katon_Bagaskara.jpg)
Bencana mematikan yang muncul pada dekade 1980-an dan hingga kini belum ada obatnya itu dinamai HIV. Penyakitnya, AIDS. Populasi penderita HIV/AIDS terus membengkak dan mengundang keprihatinan dunia.
Di Indonesia, solidaritas insan seni untuk pengidap AIDS diwakili Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya. “Usah Kau Lara Sendiri” yang dirilis pada 1995, digarap berbasis lagu “Kiseki No Hoshi” milik seniman Jepang, Keisuke Kuwata.
Tembang melodius rilisan Aquarius Musikindo ini mengirim pesan kuat bahwa yang dihindari virusnya, bukan orangnya. Katon dan Ruth berujar, “Letakkanlah tanganmu di atas bahuku, biar terbagi beban itu dan tegar dirimu.”
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3083652/original/070169200_1584954779-Najwa_Shihab_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262484/original/068324800_1781816932-AP26169744189345-Swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8706226/original/084990600_1782782102-mahrez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342603/original/068582000_1757396190-AP25248015186096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102315/original/016806000_1783041300-063_2284404120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102311/original/030973200_1783041297-063_2284405483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)