Transformasi Garuda Indonesia Mulai Terlihat, Pendapatan Naik 13,2%

Transformasi Garuda Indonesia mendorong pendapatan naik 13,2 persen menjadi US$ 2,71 miliar hingga September 2026, meski biaya bahan bakar meningkat.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 19:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 13,2 persen menjadi US$ 2,71 miliar sepanjang Januari-September 2026. Di tengah kenaikan biaya bahan bakar, Garuda Indonesia Group melanjutkan transformasi bisnis melalui diversifikasi pendapatan, pemulihan armada, dan peningkatan efisiensi operasional.

Rugi periode berjalan konsolidasi juga menyusut 3 persen secara tahunan menjadi US$ 179,3 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro mengatakan, perkembangan kinerja hingga September 2026 menunjukkan arah transformasi yang positif. Perusahaan akan terus memperkuat bisnis dan meningkatkan produktivitas untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

“Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup," jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).

"Meningkatnya pendapatan bisnis non-penerbangan mencerminkan potensi pengembangan kapabilitas dan sinergi antarentitas usaha yang terus kami optimalkan sebagai bagian dari transformasi, guna memperkuat ketahanan bisnis dan mendukung pemulihan kinerja keuangan secara berkelanjutan,” ujar Thomas.

Pendapatan konsolidasi Garuda Indonesia Group meningkat US$ 316,4 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bisnis penerbangan berjadwal menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 12,6 persen atau bertambah US$ 233,2 juta. Sementara itu, pendapatan penerbangan nonberjadwal naik 2,1 persen atau US$ 6,3 juta.

Pendapatan bisnis nonpenerbangan tumbuh lebih tinggi, yakni 31,3 persen menjadi US$ 322,8 juta. Namun, beban bahan bakar meningkat 42,9 persen atau setara US$ 309,8 juta, sehingga total beban operasional naik 15,7 persen. Meski demikian, beban operasional di luar bahan bakar dapat dibatasi pada pertumbuhan 3,1 persen.

Bisnis Nonpenerbangan Jadi Penopang Transformasi

Peningkatan pendapatan nonpenerbangan menjadi salah satu penopang transformasi Garuda Indonesia Group. Pertumbuhan ini antara lain didorong kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4 persen serta peningkatan pendapatan layanan agen perjalanan sebesar 76,1 persen.

Selain memperluas sumber pendapatan, Garuda Indonesia mengoptimalkan produktivitas dan nilai ekonomi aset dengan dukungan Danantara sebagai pemegang saham.

“Dengan dukungan Danantara, kami terus berfokus pada peningkatan produktivitas, optimalisasi nilai ekonomi dari aset dan kapabilitas yang dimiliki, serta penguatan sinergi antarentitas usaha. Langkah ini diarahkan untuk memastikan setiap lini bisnis dapat memberikan kontribusi yang semakin optimal terhadap pertumbuhan dan ketahanan kinerja Grup,” lanjut Thomas.

Dari sisi keuangan, Garuda Indonesia Group membukukan laba usaha sebesar US$ 97,2 juta. Rugi periode berjalan konsolidasi menyusut 3 persen secara tahunan menjadi US$ 179,3 juta.

Capaian tersebut menunjukkan adanya perbaikan kinerja di tengah tekanan biaya bahan bakar. Namun, perusahaan masih perlu menjaga disiplin biaya dan meningkatkan produktivitas agar pertumbuhan pendapatan dapat diterjemahkan menjadi pemulihan profitabilitas yang lebih konsisten.

Pemulihan Armada Dorong Kinerja Operasional

Hingga September 2026, jumlah pesawat siap operasi Garuda Indonesia Group mencapai 106 unit, terdiri dari 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink. Jumlah tersebut bertambah 24 pesawat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketersediaan armada mendukung pertumbuhan jumlah penumpang menjadi 16,7 juta orang, dari sebelumnya 15,6 juta penumpang. Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang, sedangkan Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.

Frekuensi penerbangan meningkat 7,9 persen menjadi 117.868 penerbangan. Sementara itu, tingkat ketepatan waktu atau on-time performance (OTP) mencapai 92,01 persen, membaik 5,86 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Thomas menegaskan, pemulihan armada harus disertai peningkatan produktivitas pesawat dan efisiensi jaringan penerbangan.

“Pemulihan ketersediaan armada merupakan bagian penting dari transformasi kami. Namun, penambahan kapasitas saja tidak cukup. Setiap pesawat perlu dioperasikan secara lebih produktif, setiap rute harus dapat berkontribusi terhadap jaringan penerbangan yang semakin efisien, dan pelanggan perlu merasakan perbaikan nyata dalam keandalan serta kualitas layanan. Inilah yang terus kami dorong agar kemajuan operasional dapat memberikan nilai tambah yang lebih optimal bagi bisnis maupun pelanggan,” jelas Thomas.

Ke depan, Garuda Indonesia Group akan berfokus pada optimalisasi armada dan jaringan penerbangan, penguatan kontribusi seluruh lini usaha, serta pengelolaan biaya dan aset secara efektif untuk mendukung profitabilitas berkelanjutan.