Bursa Asia Dibuka Menguat, Kospi Naik Lebih dari 2%

Mayoritas bursa Asia dibuka di zona hijau. Investor mencermati laporan keuangan emiten, AI, dan kenaikan harga minyak dunia.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 08:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mayoritas bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Sentimen positif datang di tengah perhatian investor terhadap musim laporan keuangan emiten, perkembangan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta pergerakan harga minyak dunia.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,55% pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Topix juga menguat 0,22%.

Penguatan paling besar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 2,3%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 1,42%.

Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 turut dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,72%.

Sementara itu, kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat justru bergerak melemah pada Rabu malam waktu setempat. Futures Dow Jones Industrial Average turun sekitar 75 poin atau 0,1%, diikuti S&P 500 Futures yang melemah 0,3%, serta Nasdaq 100 Futures yang terkoreksi 0,4%.

 

Alphabet Naikkan Belanja Modal

Salah satu sentimen yang membebani pasar AS datang dari Alphabet, induk usaha Google. Saham perusahaan tersebut turun sekitar 3% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours).

Penurunan terjadi setelah Alphabet menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) untuk 2026 menjadi hingga US$ 205 miliar. Peningkatan investasi itu mencerminkan besarnya kebutuhan pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir investor mulai lebih berhati-hati terhadap besarnya belanja perusahaan teknologi raksasa (hyperscaler) untuk pengembangan AI.

Pada perdagangan reguler sebelumnya, indeks Dow Jones ditutup melemah tipis 0,01%, S&P 500 turun 0,14%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,57%.

Selain laporan keuangan emiten, pelaku pasar juga terus mencermati kenaikan harga minyak dunia setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran "tidak serius dalam melakukan perundingan."

Kenaikan harga minyak yang berlangsung dalam waktu lama dikhawatirkan dapat mempertahankan tekanan inflasi dan mempersulit langkah bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga.

 

Gelombang Laporan Keuangan

Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, menilai perhatian investor kini kembali tertuju pada konflik geopolitik setelah musim laporan keuangan belum memberikan kejutan yang cukup besar bagi pasar.

"Karena belum banyak laporan keuangan yang benar-benar kuat untuk mengalihkan perhatian pasar, fokus investor kembali tertuju pada perang. Mereka yang sebelumnya menganggap harga minyak telah mencapai puncaknya kini harus menghitung ulang proyeksi inflasi. Saat ini, kemampuan perusahaan untuk mempertahankan daya tawar harga menjadi semakin penting jika ingin tetap menarik minat investor," ujar Singh.

Pada Kamis (23/7/2026), investor juga menantikan gelombang berikutnya laporan keuangan sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat, antara lain Dow, American Airlines, T-Mobile, Union Pacific, dan Norfolk Southern yang akan diumumkan sebelum pembukaan pasar.

Â