Emiten PNBN Tebar Dividen Rp 42, Cek Jadwal Lengkapnya

PT Ban Pan Indonesia Tbk (PNBN) akan membagikan dividen tahun buku 2025 pada Juli 2026. Berikut jadwal lengkapnya.

Diterbitkan 20 Juni 2026, 15:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) atau Bank Panin membagikan dividen tahun buku 2025 Rp 1,01 triliun. Dengan demikian, pemegang saham akan mendapatkan dividen 2025 sebesar Rp 42 per saham.

Pembagian dividen itu telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 Juni 2026. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (20/6/2026).

Perseroan membagikan dividen dengan mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2025.

Berikut jadwal pembagian dividen perseroan:

  • Akhir periode perdagangan saham dengan hak atas dividen (cum dividen) di pasar regular dan pasar negosiasi pada 25 Juni 2026
  • Awal periode perdagangan saham tanpa hak atas dividen (ex dividen) di pasar regular dan pasar negosiasi pada 26 Juni 2026
  • Akhir periode perdagangan saham dengan hak atas dividen (cum dividen) di pasar tunai pada 29 Juni 2026
  • Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen tunai (recording date) pada 29 Juni 2026
  • Awal periode perdagangan saham tanpa hak atas dividen (ex dividen) di pasar tunai pada 30 Juni 2026
  • Tanggal pembayaran dividen tunai pada 17 Juli 2026

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 19 Juni 2026, harga saham PNBN turun 0,54% menjadi Rp 920 per saham. Harga saham PNBN dibuka naik lima poin menjadi Rp 930 per saham. Saham PNBN berada di level tertinggi Rp 940 dan terendah Rp 920 per saham. Total frekuensi perdagangan 226 kali dengan volume perdagangan saham 19.691 saham. Nilai transaksi Rp 1,8 miliar.

Penutupan IHSG pada 19 Juni 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah menghijau pada penutupan perdagangan saham, Jumat, (19/6/2026). Kenaikan IHSG itu di tengah nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sejumlah kenaikan sektor saham.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup naik tipis 0,08% menjadi 6.177,13. Indeks saham LQ45 melemah 1,22% menjadi 609,40. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.

Pada sesi kedua perdagangan saham, IHSG berada di level tertinggi 6.215,06 dan level terendah 6.117,30.

Sebanyak 342 saham melemah sehingga bebani IHSG. Namun, 332 saham menguat sehingga menahan koreksi IHSG. 141 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.749.194 kali dengan volume perdagangan saham 32,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 26,4 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.792.

Sektor saham bervariasi jelang akhir pekan ini. Sektor saham properti turun 1,86%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi turun 0,03%, sektor saham basic melemah 1,83%. Kemudian sektor saham keuangan terpangkas 0,75%, dan sektor saham teknologi tergelincir 1,01%.

Sementara itu, sektor saham infrastruktur bertambah 1,61%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham consumer nonsiklikal naik 1,09%, sektor saham consumer siklikal menanjak 0,40%, sektor saham kesehatan naik 1,52% dan sektor saham transportasi melompat 0,20%.

 

Kata Analis

"Kenaikan IHSG dibatasi oleh peringatan baru dari MSCI, yang mana penyedia indeks tersebut menyoroti visibilitas yang lemah dalam kepemilikan saham dan tanda-tanda perdagangan terkoordinasi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, dikutip dari Antara.

Dari dalam negeri, hasil dari review MSCI Global Market Accessibility mengonfirmasi adanya penurunan peringkat pada satu aspek, yakni Information Flow (arus informasi), dengan alasan kurangnya transparansi kepemilikan saham, serta kekhawatiran terkait perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI menekankan, persoalan utama pasar modal Indonesia bukan pada likuiditas atau ukuran pasar, melainkan pada aspek tata kelola, transparansi, serta keterbukaan informasi.

"Sorotan MSCI terhadap kualitas pembentukan harga dan transparansi berpotensi meningkatkan persepsi risiko di mata investor global," ujar Nico.

Selanjutnya, MSCI akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 pekan depan.

Dari mancanegara, pergerakan pasar dibayangi saat mulainya implementasi perjanjian damai tentatif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Kamis, 18 Juni 2026, yang berhasil meredakan ketegangan geopolitik dan menurunkan harga minyak global.

Berlakunya perjanjian damai untuk menyudahi perang AS-Iran memicu pemulihan, yang ditandai dengan pencabutan resmi blokade laut Iran oleh pihak Washington.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance, menyatakan bahwa setiap bentuk keringanan ekonomi bagi Teheran akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap seluruh ketentuan perjanjian tersebut.

Di sisi lain, terdapat sentimen pasar terhadap kekhawatiran seputar prospek kebijakan moneter ketat The Fed. Sinyal hawkish dari The Fed memicu lonjakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada sisa tahun 2026.

Walaupun Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Rabu, 17 Juni 2026, proyeksi terbaru menunjukkan sekitar separuh anggota FOMC memperkirakan minimal satu kali kenaikan lagi menjelang akhir tahun.

Â