Data Manufaktur hingga Klaim Pengangguran AS Bakal Jadi Perhatian Pekan Ini

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak melemah pada pekan lalu.

Diterbitkan 22 September 2026, 05:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan 14-18 September 2026. Sentimen eksternal seperti rilis data manufaktur dan internal mempengaruhi IHSG dan rupiah.

Mengutip riset Syailendra Capital, Senin (21/9/2026), dari sentimen eksternal, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Kenaikan suku bunga the Fed itu merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023.

Sementara itu,prediksi akhir 2026, median dot plot naik ke 4,1% (vs Juni 2026 sebesar 3,8%) dengan proyeksi core personal consumption expenditures (PCE) atau indeks pengeluaran pribadi inti 2026 naik ke 3,4% (vs prev. 3,3%).

Merespons hal itu, indeks S&P 500 naik 1,1% seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun dari level tertinggi sejak 2007. Selain itu, harga minyak Brent ditutup di bawah US$ 105 per barel.

Selanjutnya Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang juga mengetatkan kebijakan moneter. Bank Sentral Eropa menaikkan deposit rate sebesar 25 basis poin menjadi 2,5%. Kenaikan kedua pada 2026.

Sementara itu, Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25% pada 18 September 2026, tertinggi sejak 1995.

"Pengetatan global yang serentak ini berpotensi menekan rupiah dan mempersempit spread Surat Berharga Negara (SBN) terhadap obligasi AS menjelang keputusan Bank Indonesia (BI) pekan ini,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Dari komoditas, volume minyak dan LNG yang melalui Selat Hormuz mencapai level tertinggi dalam enam bulan setelah operasi pengawasan kapal dan pembersihan ranjau oleh Amerika Serikat (AS) membantu menjaga kelancaran jalur perdagangan energi global. Namun, eskalasi serangan Houthi dan gangguan di Laut Merah tetap meningkatkan risiko pasokan.

"Sementara itu, harga Brent bertahan di sekitar US$ 104 per barel dan diekspresikan akan menambah tekanan inflasi AS," demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

 

 

Sentimen Domestik

Dari sentimen domestik, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. “Sebelumnya Suahasil Nazara menjabat sebagai Wamenkeu sejak 2019, sehingga pergantian ini dinilai menjaga kontinuitas kebijakan fiskal,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Selain itu, dari defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Agustus 2026 tercatat Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) (vs Agustus 2025 sebesar Rp 321,6 triliun atau 1,35% terhadap PDB. Pendapatan negara mecapai Rp 2.055,6 triliun (65,2% dari target).

Sementara itu, belanja negara Rp 2.295,7 triliun. Keseimbangan primer masih surplus Rp 154 triliun (vs target: defisit Rp 89,7 triliun).

 

 

Kinerja IHSG dan Rupiah

Lalu bagaimana kinerja IHSG dan rupiah pekan lalu?

Sepanjang pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 0,81% ke level 17.812. Selain itu, indeks dolar AS menguat ke level 100,21.

Di pasar surat utang, obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun turun ke level 7,12%, yang diikuti dengan foreign outflow atau aliran dana investor asing keluar sebesar Rp 1,54 triliun. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun menguat ke level 5%.

Di pasar saham, IHSG merosot 1,53% pada pekan lalu ke level 6.441 dengan aliran dana investor asing keluar mencapai Rp 1,15 triliun. Sementara itu, dua indeks saham AS melemah pada pekan lalu yakni indeks S&P 5000 terpangkas 0,3% dan indeks Dow Jones tergelincir 1,5%. Namun, indeks Nasdaq bertambah 0,3%.

Pada pekan ini, apa saja yang perlu dicermati?

  • 23 September 2026: Keputusan Bank Indonesia soal suku bunga acuan
  • 23 September 2026: Rilis data S&P Global Manufacturing (September)
  • 24 September 2026: Klaim Pengangguran, Penjualan Rumah Baru (Agustus)
  • 25 September 2026: Pesanan Barang Tahan Lama (Month on Month, Agustus)