Dongkrak Free Float, BSI Siap Terbitkan 6,8 Miliar Saham Baru

Tingkatkan free float dan bidik investor asing, Bank Syariah Indonesia (BSI) terbitkan 6,8 miliar saham baru. Ini target rasio modal terbarunya.

Diterbitkan 07 November 2026, 10:35 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi mengantongi persetujuan dari pemegang saham untuk menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue.

Melalui aksi korporasi tersebut, emiten dengan kode saham BRIS ini bakal menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendongkrak porsi kepemilikan saham publik (free float).

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan, peningkatan free float merupakan momen yang telah lama dinantikan oleh pelaku pasar. Saat ini, porsi saham publik BSI berada di kisaran 9,9%.

Dengan porsi yang lebih luas, BSI berpotensi menarik minat investor institusi maupun global yang menitikberatkan free float dalam mengambil keputusan investasi.

"Kami melihat peningkatan free float sebagai momentum untuk memperluas basis investor BSI dan meningkatkan daya tarik saham Perseroan di pasar modal. Dengan kepemilikan saham publik yang lebih luas, semakin banyak investor domestik maupun global yang berkesempatan untuk berparticipasi dalam pertumbuhan BSI," jelas dia dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (7/11/2026).

 "Kami berharap pelaksanaan Rights Issue ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia sekaligus mendorong masuknya aliran investasi portofolio asing (foreign portfolio inflow)", tambah Anggoro.

Selain menambah likuiditas perdagangan saham, tambahan porsi saham publik ini juga diyakini memperbesar peluang BSI untuk masuk dalam jajaran konstituen indeks saham global. Penguatan modal ini menjadi tameng penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

 

Menuju Kelompok Bank KBMI 4

Di tengah dinamika perekonomian yang terus berubah, struktur permodalan yang tebal menjadi syarat mutlak bagi bank untuk menjaga ketahanan usaha serta mempertahankan laju pertumbuhan pembiayaan.

"Permodalan yang kuat merupakan fondasi bagi BSI untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan," ungkap Anggoro.

Melalui tambahan modal, manajemen ingin memastikan BSI memiliki capital buffer yang memadai untuk menjaga resiliensi, memperluas kapasitas pembiayaan, serta mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan.

"Penguatan permodalan ini juga menjadi bagian dari langkah strategis BSI untuk menuju KBMI 4," tambah Anggoro.

Aksi penguatan modal ini berjalan seiring dengan proyeksi ekspansi bisnis Perseroan. Kebutuhan modal BSI diperkirakan melonjak dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027. Di saat yang sama, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) diproyeksikan merangkak naik dari 20,38% ke level 23,31%.

Jika target penambahan modal ini terealisasi dan berhasil membawa BSI menembus kelompok Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4, BSI akan mengukir sejarah baru. BSI bakal menjadi satu-satunya bank syariah di tanah air yang bertengger di jajaran elite bank KBMI 4.